Kemendag Bantah Daya Beli Turun, Bidik Bisnis Waralaba Tumbuh 7% Tahun Ini
Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimistis jika bisnis waralaba domestik tumbuh 7% tahun ini, atau naik 2% dibandingkan 2025. Direktur Bina Usaha Perdagangan Franciska Simanjuntak menyatakan bahwa target tersebut bisa dicapai karena daya beli masyarakat yang masih memadai.
Franciska membantah penurunan daya beli masyarakat tahun ini turun jika dibandingkan sebelumnya. Menurut dia, yang terjadi saat ini bukan penurunan daya beli, namun perubahan pola masyarakat.
“Daya beli biasanya naik tajam di Maret menjelang Idulfitri. Setiap tahun memang di bulan-bulan (saat ini) akan landai sampai nanti mendekati Natal dan tahun baru,” kata Fransiska dalam acara Press Conference Pre-Event The 25th IFRA 2026, Kamis (20/8).
Dia mengatakan target pertumbuhan ini hanya menghitung bisnis waralaba yang memang berasal dari dalam negeri, tidak termasuk bisnis franchise yang masuk ke Indonesia.
“(Realisasi) tahun lalu tercapai sekitar 6% dari target 5%. (Oleh karena itu) kami menargetkan hingga akhir tahun (bisnis waralaba domestik) tumbuh 7%,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, jumlah waralaba dalam negeri mencapai 169 unit. Sementara bisnis franchise yang berasal dari luar negeri hingga saat ini sebanyak 163 unit.
Meski ditargetkan tumbuh, Fransiska mengakui bahwa ada bisnis-bisnis waralaba yang mengalami penutupan. Namun dia tidak merinci jumlah penutupan tersebut.
“Saat ini kami dalam proses mendata. Dari 169 waralaba dalam negeri ini harus dibantu,” ucapnya.
Dia menyebut bisnis waralaba dalam negeri juga ada beberapa yang berasal dari usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memerlukan dukungan biaya agar bisa mengembangkan produknya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso sebelumnya mendorong pengembangan model bisnis waralaba sebagai salah satu cara mempercepat pertumbuhan usaha sekaligus memperluas ekspansi produk dan layanan Indonesia ke pasar internasional.
Budi mengatakan bisnis waralaba memiliki keunggulan karena sistem manajemen, produksi, dan pangsa pasarnya telah terbentuk sehingga memudahkan pelaku usaha yang ingin memulai bisnis dengan lebih cepat.
"Jadi kita terus ingin mengembangkan model bisnis waralaba ini. Karena sebenarnya ketika misalnya teman-teman ingin bikin usaha yang langsung cepat, bisa jalan ya salah satu pilihannya adalah waralabanya. Karena manajemennya, kemudian produksinya dan sebagainya, pangsa pasarnya itu sudah terjangkau," ujar Budi dikutip dari Antara.
Menurutnya, waralaba menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat yang ingin berwirausaha karena model bisnisnya sudah teruji. Namun, Budi menekankan produk yang akan diwaralabakan juga harus memenuhi persyaratan yang ketat agar kualitasnya tetap terjaga.
Ia menjelaskan, persyaratan yang ketat tersebut penting untuk memberikan jaminan kepada penerima waralaba sehingga dapat menjalankan usaha dengan baik dan berkelanjutan.
"Harapannya adalah ada jaminan ketika orang itu ikut waralaba di suatu produk tertentu, sehingga usaha yang diikuti atau sebagai yang menerima waralaba ini dapat menjalankan usahanya dengan baik," ucapnya.
