Kemenperin Sebut Industri Manufaktur Tahan Pelepasan Barang, Tunggu Pasar Pulih
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pelaku industri manufaktur masih menahan pelepasan barang produksinya ke pasar domestik maupun ekspor. Langkah itu dilakukan di tengah industri yang masih menunggu perbaikan kondisi pasar.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan kondisi tersebut sudah terlihat sejak Juli 2026. Saat itu, permintaan dan produksi industri dalam negeri meningkat, tetapi stok produk manufaktur di gudang juga cenderung bertambah.
“Stok produk manufaktur di gudang cenderung meningkat atau menumpuk. Industri menahan melepas barangnya ke pasar domestik ataupun ekspor karena menunggu berbagai perubahan, perbaikan pasar domestik maupun pasar ekspor,” kata Febri dalam pemaparan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (31/8).
Fenomena serupa masih terjadi pada Agustus 2026. Industri masih menunggu perubahan kondisi pasar domestik maupun ekspor sebelum melepas produk yang telah diproduksi.
Meski permintaan mengalami sedikit penurunan, industri masih mempertahankan produksi. Hal ini lantaran pelaku industri masih melihat adanya peluang perbaikan perekonomian Indonesia dan global ke depan.
“Meski ada sedikit penurunan pada permintaan, namun industri masih tetap memproduksi produk-produknya karena memandang bahwa perekonomian Indonesia dan juga perekonomian global masih akan tetap membaik,” ujarnya.
Produksi Naik, Pesanan Baru Melambat
Kondisi itu juga tercermin dari sejumlah variabel pembentuk IKI pada Agustus 2026. Variabel pesanan baru mengalami perlambatan 0,67 poin menjadi 53,13.
Di sisi lain, produksi justru meningkat 0,55 poin menjadi 55,10. Sementara itu, variabel persediaan produk berada dalam fase kontraksi dengan nilai 46,02 setelah turun 3,16 poin.
Dari sisi orientasi pasar, aktivitas industri baik untuk pasar domestik maupun ekspor masih berada dalam fase ekspansi. IKI domestik tercatat 51,13, sedangkan IKI industri berorientasi ekspor mencapai 53,09. Namun, keduanya mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.
Secara keseluruhan, IKI Agustus 2026 berada di level 52,30. Angka tersebut masih berada di atas level 50 yang menunjukkan ekspansi, tetapi turun 0,80 poin dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 53,10.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 22 subsektor masih mengalami ekspansi, sementara satu subsektor mengalami kontraksi. Subsektor yang mengalami ekspansi itu memiliki kontribusi sebesar 98,6% terhadap total PDB industri pengolahan.
Industri Masih Tunggu Perbaikan Pasar
Febri mengatakan keputusan industri untuk menahan pelepasan barang juga berkaitan dengan kondisi pasar yang masih dinamis. Pelaku industri masih mencermati perkembangan permintaan domestik maupun kondisi pasar ekspor.
Untuk pasar ekspor, salah satu tekanan yang dihadapi industri adalah meningkatnya biaya logistik luar negeri. Kenaikan biaya tersebut berdampak baik terhadap pembelian bahan baku impor maupun penjualan produk manufaktur ke pasar ekspor.
Sementara itu, dari sisi domestik, kuatnya permintaan masih menjadi salah satu faktor yang menopang ketahanan industri manufaktur Indonesia.
Febri menyebut sekitar 80% permintaan industri manufaktur Indonesia berasal dari pasar domestik, sedangkan 20% berasal dari ekspor.
Menurutnya, struktur permintaan turut menjadi salah satu faktor yang membuat industri manufaktur Indonesia relatif resilien ketika menghadapi tekanan ekonomi.
Pada kuartal II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.
Kinerja itu dinilai menunjukkan industri manufaktur masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional, meski pada Agustus pelaku industri tetap mencermati perkembangan permintaan dan kondisi pasar sebelum melepas produknya.
