PMI Manufaktur RI Kembali Kontraksi, Turun ke 49,8 pada Agustus
Aktivitas industri manufaktur Indonesia kembali melemah pada Agustus 2026. Hal ini terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas industri meningkat, sedangkan angka di bawah 50 berarti aktivitas industri menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan demikian, PMI sebesar 49,8 menunjukkan sektor manufaktur kembali masuk zona kontraksi.
S&P Global melaporkkan kondisi manufaktur Indonesia secara umum masih relatif stabil pada kuartal III 2026. Namun, produksi dan jumlah tenaga kerja kembali turun pada Agustus.
“Produksi manufaktur turun karena persaingan yang semakin ketat, permintaan yang masih lemah, serta kenaikan harga barang. Penurunan produksi ini juga menjadi yang kelima dalam enam periode survei terakhir,” demikian dikutip dari dokumen, Selasa (1/8).
Jumlah pekerja di sektor manufaktur juga kembali berkurang. Sejumlah perusahaan mengurangi tenaga kerja karena kebutuhan produksi yang lebih rendah. Selain itu, ada perusahaan yang kehilangan pekerja karena pengunduran diri.
Di tengah pelemahan produksi, ada sedikit tanda perbaikan dari sisi pesanan baru. Indeks pesanan baru kembali berada di atas level 50 untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, namun, kenaikannya masih sangat tipis.
Sebagian perusahaan melaporkan permintaan pelanggan mulai membaik, tetapi perusahaan lain masih menghadapi permintaan yang lemah, persaingan ketat, dan penurunan daya beli pelanggan.
Aktivitas pembelian perusahaan juga mulai stabil pada Agustus setelah turun selama lima bulan berturut-turut. Sebagian perusahaan meningkatkan pembelian karena pesanan baru mulai bertambah. Namun, perusahaan lain masih mengurangi pembelian karena jumlah pesanan belum banyak.
Sejumlah perusahaan juga mulai menambah stok bahan baku untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga. Persediaan bahan baku meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan. Sebaliknya, persediaan barang jadi kembali turun dan telah terjadi selama empat bulan berturut-turut.
Tekanan Harga Mulai Mereda
Tekanan kenaikan harga di sektor manufaktur mulai berkurang pada Agustus. Meski begitu, harga bahan baku dan biaya dari pemasok masih tergolong tinggi. Kondisi itu membuat biaya operasional perusahaan meningkat. Sebagian perusahaan kemudian menaikkan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya tersebut.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan data PMI terbaru menunjukkan adanya sedikit penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia.
"Data PMI terbaru menunjukkan sedikit penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia," kata Maryam dalam dokumen itu.
Namun, menurutnya, ada beberapa perkembangan positif. Tekanan inflasi mulai berkurang dan kepercayaan pelaku usaha terus membaik sejak mencapai titik terendah pada April.
Kepercayaan bisnis pada Agustus bahkan mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan. Pelaku usaha berharap permintaan dan kondisi pasar yang lebih baik dapat mendorong peningkatan produksi dalam 12 bulan ke depan.
