Beras Premium Langka di Ritel, Pemasok Enggan Jual di Bawah HET

Kamila Meilina
4 September 2026, 16:05
Pembatasan Pembelian Bahan Pokok
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketersediaan beras premium di pasar ritel modern semakin terbatas. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengatakan kondisi tersebut terjadi karena pemasok enggan menjual beras premium kepada peritel dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

“Penyebabnya adalah tidak ada pemasok yang mau menjual beras premium kepada peritel dengan harga di bawah HET yang ditentukan oleh pemerintah. Jika ada sangat sedikit jumlahnya, itu pun harus dibarengin dengan pembelian beras khusus/fortifikasi,” kata Solihin kepada Katadata.co.id, Jumat (4/9).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat pasokan beras premium ke ritel modern menjadi terbatas.

Fenomena serupa juga diamati oleh pengamat pertanian dari Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori. Dia mengatakan beras premium mulai semakin sulit ditemukan di pasar modern dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

Menurut Khudori, keterbatasan tersebut berkaitan dengan kondisi produsen yang mengalami kerugian ketika harus menjual beras premium sesuai HET.

“Beras premium semakin sulit ditemukan di pasar modern karena produsennya merugi,” kata Khudori dalam keterangannya, dikutip Jumat (4/9). 

Beras Premium Berganti Beras Khusus

Khudori mengatakan kondisi tersebut membuat beras khusus, termasuk beras fortifikasi, semakin banyak ditemui di pasar modern.

Perubahan ini terkadang tidak disadari konsumen karena mereka hanya melihat perubahan harga di rak ritel. Padahal, produk yang tersedia bisa saja sudah berganti kategori.

Dia mencontohkan beras premium kemasan 5 kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp74.500 atau Rp14.900 per kilogram. Produk tersebut kemudian digantikan beras khusus dengan harga Rp90.000 hingga Rp95.000 per kemasan 5 kilogram, atau sekitar Rp18.000-Rp19.000 per kilogram.

Dengan demikian, menurut Khudori, kondisi yang terjadi di rak ritel bukan hanya persoalan kenaikan harga beras. Konsumen juga menghadapi perubahan jenis atau kategori beras yang tersedia.

Persoalan berkurangnya beras premium di ritel juga berkaitan dengan tingginya harga gabah di tingkat petani.

Saat ini, harga gabah di tingkat petani telah berada di atas Rp8.000 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kenaikan harga gabah memang memberikan keuntungan bagi petani, tetapi di sisi lain meningkatkan biaya produksi bagi penggilingan dan produsen beras.

Masalahnya, produsen tetap harus menjual beras dengan mengacu pada HET yang ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut membuat produsen berada dalam posisi sulit.

Produsen harus memilih menjual beras di atas HET atau tetap mengikuti HET dengan risiko mengalami kerugian.

Menurut Khudori, kondisi tersebut mendorong sejumlah produsen mencari alternatif untuk menutup kerugian.

Dia mencontohkan salah satu produsen di Medan yang mulai memproduksi beras fortifikasi dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Produksi beras fortifikasi tersebut mencapai sekitar 20% dari total produksi.

Produksi beras fortifikasi dinilai membantu produsen menutup kerugian dari penjualan beras medium dan premium yang mencapai sekitar Rp2.000 per kilogram.

Di sisi lain, terdapat produsen yang memilih menghentikan produksi beras premium karena terus mengalami kerugian. Produsen tersebut kemudian hanya menjual stok beras premium yang masih tersisa.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...