Enam Bandara Ditutup Imbas Anak Krakatau, Kertajati dan Juanda Jadi Alternatif

Desy Setyowati
6 September 2026, 13:48
anak krakatau, juanda, kertajati,
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/YU
Dua pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Minggu (29/10/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan enam bandara ditutup sementara imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemerintah pun menyiapkan sejumlah bandara alternatif seperti Kertajati di Jawa Barat, Ahmad Yani di Semarang, dan Juanda di Surabaya.

Enam bandara yang ditutup yakni Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Radin Inten II di Lampung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe, dan Husein Sastranegara di Bandung. Penutupan operasional bandara diperkirakan berlanjut selama sekitar empat jam karena adanya paparan abu vulkanik.

Dudy mengatakan keputusan penutupan dilakukan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta hasil pengujian di bandara. "Enam bandara masih positif berdasarkan paper test dan diperkirakan penutupannya masih akan berlangsung empat jam," kata Dudy dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Minggu (6/9/2026).

Kementerian Perhubungan terus berkoordinasi dengan BMKG, Badan Geologi, AirNav Indonesia, pengelola bandara, dan maskapai untuk memantau perkembangan sebaran abu vulkanik. Kondisi tersebut menjadi dasar dalam menentukan operasional penerbangan.

Dalam siaran pers Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, penutupan Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB. Halim Perdanakusuma dan Radin Inten II diperpanjang hingga pukul 14.00 WIB.

Sementara itu, Bandara Budiarto ditutup hingga pukul 13.30 WIB dan Bandara Pondok Cabe hingga pukul 14.00 WIB. Untuk Bandara Husein Sastranegara Bandung, hasil paper test menunjukkan adanya dampak abu vulkanik dan masih menunggu penerbitan NOTAM penutupan bandara.

Bandara Alternatif: Kertajati, Ahmad Yani, dan Juanda

Dudy mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah bandara alternatif apabila gangguan penerbangan berlanjut, yakni Kertajati di Jawa Barat, Ahmad Yani di Semarang, dan Juanda di Surabaya.

Menurut Dudy, berdasarkan hasil pengujian, Kertajati belum terdampak abu vulkanik dan masih memungkinkan digunakan. Namun, maskapai diminta tetap mengantisipasi karena kondisi cuaca dan pergerakan abu vulkanik dapat berubah.

Penerbangan dari Jeddah dan Madinah juga dialihkan ke Kertajati. Dudy mengatakan pemerintah turut menyiapkan Ahmad Yani dan Juanda sebagai alternatif untuk penerbangan yang terdampak.

"Kami sudah menyiapkan bandara Kertajati, Ahmad Yani dan Juanda sebagai bandara alternatif apabila airlines atau operator memungkinkan untuk menerbangkan pesawatnya ke tiga bandara alternatif," kata Dudy.

Kementerian Perhubungan mencatat penutupan bandara akibat abu vulkanik tersebut berdampak terhadap 373 penerbangan hingga pukul 10.35 WIB, Minggu (6/9).

Di Bandara Soekarno-Hatta, terdapat 202 penerbangan yang terdampak. Rinciannya, 167 penerbangan batal, 16 mengalami keterlambatan, tujuh ditunda, empat dialihkan, dua telah mendarat, tiga telah berangkat, dan satu penerbangan kembali ke bandara asal.

Di Bandara Radin Inten II, terdapat delapan penerbangan terdampak dan seluruhnya batal. Sementara di Halim Perdanakusuma terdapat 29 penerbangan terdampak dan seluruhnya juga dibatalkan.

Kementerian Perhubungan menyatakan jumlah penerbangan terdampak masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi sebaran abu vulkanik.

Dudy menegaskan keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi prioritas. Maskapai diminta tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi belum memungkinkan.

Bagi penumpang yang penerbangannya terdampak, maskapai diwajibkan memenuhi hak penumpang sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk memberikan informasi mengenai status penerbangan serta pilihan penanganan yang tersedia.

Kementerian Perhubungan juga mengimbau penumpang tidak datang ke bandara yang masih ditutup untuk menghindari kepadatan. Penumpang diminta memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing.

Jika Abu Anak Krakatau Berkepanjangan, Menhub Siapkan Kereta hingga Kapal

Menhub Dudy Purwagandhi menyiapkan sejumlah moda transportasi alternatif jika gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berlangsung berkepanjangan. Moda yang disiapkan mencakup kereta api, angkutan darat, hingga transportasi laut.

Dudy mengatakan pemerintah terus memantau kondisi sebaran abu vulkanik dan dampaknya terhadap penerbangan. Jika kondisi tersebut berlanjut, masyarakat dapat menggunakan moda transportasi lain yang masih beroperasi.

"Kalau transportasi udara terdampak, kita siapkan transportasi lainnya, baik kereta api, darat maupun laut," ujar Dudy.

Menurut Dudy, moda kereta api menjadi salah satu alternatif, khususnya untuk perjalanan di Pulau Jawa. Sementara transportasi darat dan laut juga disiapkan untuk mengantisipasi apabila penerbangan masih mengalami gangguan.

Di sisi lain, Dudy mengatakan penyeberangan Merak-Bakauheni masih dapat beroperasi. Pemerintah belum menambah jumlah kapal karena volume penumpang di jalur tersebut justru menurun.

Kemenhub menyatakan pemantauan terhadap kondisi penerbangan dan sebaran abu vulkanik terus dilakukan bersama BMKG, Badan Geologi, AirNav Indonesia, pengelola bandara, dan maskapai.

Dudy menegaskan keselamatan dan keamanan menjadi prioritas dalam pengoperasian transportasi. Maskapai tidak diminta memaksakan penerbangan apabila kondisi belum memungkinkan.

Jika gangguan penerbangan berlanjut, pemerintah mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan penggunaan moda transportasi darat, kereta api, maupun laut sebagai alternatif perjalanan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...