Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik di Rusia, Target Operasi 2030
PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang investasi dalam pengembangan fasilitas produksi amonia dan urea berskala global, Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2), di Primorsky Krai, Rusia.
Proyek tersebut dikembangkan oleh holding JSC Ruschem dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial sekitar 2030. Penjajakan kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk melakukan studi bersama atau joint study. Kesepakatan itu dilakukan dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada Kamis (3/9).
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan kerja sama dengan Rusia ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas alternatif sumber produksi dan pasokan pupuk. Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan ketahanan rantai pasok pupuk nasional.
Kerja sama ini juga dinilai membuka peluang bagi Pupuk Indonesia untuk mengakses produksi amonia dan urea berbasis gas alam dengan struktur biaya bahan baku yang kompetitif.
“Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global,” kata Rahmad dalam keterangannya, dikutip Senin (7/9).
Rahmad mengatakan pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengolah gas untuk memproduksi amonia dan urea menjadi salah satu modal perusahaan dalam mengkaji peluang kerja sama di Rusia. Pengalaman itu dinilai relevan dengan karakteristik Nakhodka Fertilizer Plant yang menggunakan gas alam sebagai basis produksinya.
NFP merupakan proyek pembangunan kompleks industri metanol, amonia, dan urea berskala global di Primorsky Krai, Rusia Timur, yang dimiliki JSC Ruschem. Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, mengatakan penjajakan ini merupakan tindak lanjut konkret pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11. Kerja sama ini membuka peluang investasi global bagi Pupuk Indonesia dan memperkuat ketahanan bahan baku serta industri nasional.
“Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kita dan juga ketahanan industri kita,” kata Rosan.
Akses ke Pasar Asia-Pasifik
Selain kapasitas produksi, lokasi proyek menjadi salah satu pertimbangan Pupuk Indonesia. Primorsky Krai memiliki akses ke Pelabuhan Vladivostok yang menghadap Samudera Pasifik.
Lokasi itu dinilai strategis karena dapat membuka peluang bagi Pupuk Indonesia untuk memperluas akses ke pasar Asia-Pasifik, yang selama ini menjadi salah satu kawasan penting dalam aktivitas perdagangan perusahaan.
“Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” ujar Rahmad.
Menurutnya, faktor tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat peluang pengembangan NFP-2 sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing dan ketahanan rantai pasok Pupuk Indonesia.
Meski membuka peluang investasi, Pupuk Indonesia masih berada pada tahap awal untuk mengkaji kelayakan proyek tersebut. Penandatanganan MoU menjadi dasar bagi kedua pihak untuk melakukan feasibility study dan due diligence terhadap potensi pengembangan NFP-2.
Kajian itu akan mencakup sejumlah aspek, mulai dari teknis, keekonomian proyek, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, hingga risiko proyek.
Selain itu, Pupuk Indonesia juga akan mengkaji aspek kepatuhan terhadap ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.
