Vale - Huayou Pertimbangkan Bangun Fasilitas RKSBF untuk Olah Sisa Sulfur

Mela Syaharani
10 September 2026, 14:59
Vale, smelter, sulfur
Antara Foto/Nova Wahyudi
Pekerja menggunakan pakaian tahan api saat mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Vale Indonesia (INCO) bersama Huayou sedang mempertimbangkan untuk membangun fasilitas rotary kiln smelting blast furnace (RKSBF) untuk mengolah kembali sisa sulfur yang ada dalam fasilitas pemurnian dan peleburan (smelter) HPAL. 

Vale dan Huayou memiliki kerja sama pengolahan nikel yang dilakukan melalui perusahaan patungan, PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI). Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan hal ini merupakan salah satu opsi yang dipertimbangkan dalam menghadapi kondisi kenaikan harga sulfur di dunia.

Perusahaan berupaya untuk menemukan sumber-sumber asam sulfat yang pada saat ini tidak terlihat ada di pasar. Dalam smelter HPAL, sulfur dibutuhkan untuk bisa membuat asam sulfat yang memiliki fungsi sebagai reagen utama untuk mengekstraksi nikel dan kobalt dari bijih.

“Kami mempertimbangkan membangun fasilitas tersebut untuk mengolah kembali sisa (sulfur) dari smelter HPAL. Fasilitas ini bisa me-recover sulfur yang tertinggal dalam tailing,” kata Bernardus dalam Public Expose 2026, Kamis (10/9).

Selain rencana pembangunan RKSBF, perusahaan juga sedang mengkaji opsi penggunaan pirit untuk menggantikan peran sulfur. Pirit merupakan mineral disulfida yang mengandung sekitar 46,6% besi dan 53,4% belerang. Sulfur merupakan komponen penting dalam proses HPAL, teknologi utama yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP).

Di samping itu, Vale juga sedang mengamati beberapa inisiatif di Cina yang bisa memproduksi asam sulfat namun tidak menggunakan sulfur.

Meski mencari alternatif, dia mengatakan Vale sudah melakukan mitigasi yang cukup baik sejak awal tahun ini, 

“Kami mempunyai stok (sulfur) yang cukup sampai dengan kuartal tiga tahun ini. Jadi kalaupun terdampak, itu di kuartal keempat dan kemudian kami harus antisipasi juga di 2027,” ujarnya.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sebelumnya mengatakan kenaikan harga sulfur saat ini berpengaruh terhadap tekanan biaya bahan baku pendukung untuk produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari smelter HPAL. MHP merupakan produk antara yang dihasilkan dari pengolahan bijih nikel laterit.

APNI mencatat, harga rata-rata impor sulfur melonjak dari US$ 104 per ton pada kuartal I 2024 menjadi US$ 817 per ton pada kuartal II 2026,. Harganya bahkan sempat menembus lebih dari US$ 1.100 per ton pada Juni 2026.

Hal ini diperparah dengan ketergantungan pasokan sulfur dari Timur Tengah mencapai sekitar 80%. Total impor sulfur nasional mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun. 

“Kondisi ini menekan biaya operasional HPAL hingga lebih dari 30% dan menjadi salah satu faktor pendorong konversi sebagian kapasitas RKEF ke produksi nickel matte,” kata APNI dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/8).

Uji Coba Pirit

Vale sebelumnya mengatakan sedang menguji coba mineral Pirit sebagai bahan subtitusi atas sulfur. Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Budiawansyah mengatakan hal ini dilakukan sebagai solusi di tengah lonjakan harga sulfur yang terjadi saat ini. 

“Kami pertimbangkan mencoba untuk mengekstraksi zat seperti Pirit sebagai pengganti sulfur. Sejauh ini tes dengan komposisi tertentu menunjukkan hasil yang bagus dan menarik,” kata Budi dalam media gathering di Jakarta, Kamis (13/8).

Dia menyebut proses tes ini akan dilakukan lebih lanjut untuk mengetahui titik optimum pirit, agar bisa dimanfaatkan sebagai substitusi tanpa menimbulkan dampak baru. Salah satunya berkaitan dengan pengendalian lingkungan. 

“Dalam sebuah kesulitan, kami mencoba melihat peluang baru. Dahulu Pirit tidak ada yang melirik, tapi jadi menarik ketika diekstrak ke tingkat tertentu bisa menghasilkan kadar sulfur yang mencukupi,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...