Survei KIC: Kelas Menengah Masih Pertimbangkan Mobil Bensin Ketimbang EV
Di tengah perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) di Indonesia, mobil berbahan bakar bensin masih menjadi pilihan utama bagi konsumen kelas menengah. Mobil listrik memang mulai dipertimbangkan, tetapi kendaraan konvensional masih lebih banyak masuk dalam daftar pilihan konsumen saat akan membeli mobil pertama.
Temuan tersebut terlihat dalam hasil survei Katadata Insight Center (KIC). Konsumen cenderung memilih teknologi yang sudah familiar, sementara pertimbangan mengenai kemudahan penggunaan dan risiko setelah pembelian turut memengaruhi keputusan.
Untuk konsumen yang akan membeli mobil pertama, sebanyak 92,3% mempertimbangkan mobil berbahan bakar bensin atau diesel. Sementara itu, 35,7% mempertimbangkan mobil hybrid dan 28% mempertimbangkan mobil listrik murni atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV/EV).
Preferensi terhadap mobil berbahan bakar bensin juga terlihat pada konsumen yang ingin mengganti atau menambah mobil. Untuk konsumen yang ingin mengganti mobil, sebanyak 75,7% responden mempertimbangkan mobil bensin. Sementara itu, pada konsumen yang ingin menambah mobil, angkanya mencapai 73,6%.
Di sisi lain, mobil hybrid menjadi salah satu pilihan yang cukup banyak dipertimbangkan. Sebanyak 47,6% konsumen yang ingin mengganti maupun menambah mobil mempertimbangkan kendaraan hybrid.
Harga juga menjadi salah satu pertimbangan konsumen. Sebagian besar konsumen menargetkan kendaraan pada rentang harga di bawah Rp300 juta hingga Rp500 juta.
Peneliti Katadata Insight Center Kholis Dana mengatakan preferensi terhadap mobil bensin masih kuat ketika konsumen dihadapkan pada pilihan antara teknologi yang sudah familiar dan teknologi yang relatif baru.
“Temuan ini menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap mobil bensin masih cukup kuat, terutama ketika mereka harus memilih teknologi yang sudah familiar dengan alternatif yang relatif lebih baru,” kata Kholis.
Demikian, dalam kondisi ini, konsumen tak hanya mempertimbangkan teknologi kendaraan, tetapi juga kenyamanan, kemudahan penggunaan, serta risiko yang mereka persepsikan dari keputusan tersebut.
Menurut dia, transisi ke kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan menawarkan teknologi baru. Konsumen juga perlu merasa yakin terhadap pilihan tersebut.
Konsumen Memilih Teknologi yang Familiar
Preferensi terhadap mobil bensin tidak terlepas dari tingkat familiaritas konsumen terhadap teknologi tersebut. Mobil berbahan bakar bensin telah digunakan secara luas, sehingga konsumen memiliki lebih banyak pengalaman dalam penggunaan dan perawatannya.
Hal serupa terlihat dari cara konsumen menilai kematangan teknologi kendaraan. Sebanyak 59,3% responden menilai teknologi kendaraan dapat disebut matang apabila sudah digunakan oleh banyak orang.
Sementara itu, 58% responden melihat kestabilan dan minimnya kendala sebagai indikator kematangan teknologi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerimaan terhadap teknologi kendaraan tidak hanya berkaitan dengan kehadiran teknologi baru. Konsumen juga mempertimbangkan seberapa banyak teknologi tersebut telah digunakan dan bagaimana rekam jejaknya dalam penggunaan sehari-hari.
Pertimbangan mengenai risiko juga terlihat dari proses konsumen menentukan merek kendaraan. Data KIC menunjukkan sekitar enam dari sepuluh konsumen pernah mengeliminasi merek yang sebelumnya sudah masuk dalam daftar pilihan atau shortlist.
Biaya perawatan dan purna jual menjadi alasan yang paling banyak membuat konsumen mencoret suatu merek. Faktor tersebut dipilih oleh 53,4% responden.
Selanjutnya, 46% responden mengeliminasi merek karena harganya tidak sesuai dengan anggaran. Sebanyak 42,9% lainnya mempertimbangkan konsumsi bahan bakar atau efisiensi energi kendaraan.
Keputusan pembelian mobil tidak berhenti pada daya tarik kendaraan atau teknologi yang ditawarkan. Konsumen juga mempertimbangkan konsekuensi setelah mobil dibeli, termasuk biaya dan efisiensi penggunaannya.
