Peta Pariwisata Asia Tenggara Bergeser, Destinasi Alternatif RI Berpeluang Naik
Peta pariwisata di Asia Tenggara diprediksi mengalami perubahan dalam beberapa tahun ke depan. Wisatawan tidak lagi hanya berfokus pada destinasi populer, tetapi mulai mencari pengalaman baru, lokasi yang lebih sepi, serta destinasi alternatif.
Senior Lecturer Department of Marketing, National University of Singapore (NUS) Business School, Samer Elhajjar, mengatakan perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia.
Menurut dia, pertumbuhan pariwisata di Asia Tenggara masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah kawasan lain. Berdasarkan riset NBR Tourism Next: 2026 and Beyond, pertumbuhan pariwisata Asia Tenggara tercatat sekitar 3%, sementara Amerika Tengah mencapai 18%.
Elhajjar mengatakan salah satu persoalan yang dihadapi Indonesia adalah ketergantungan citra pariwisata pada destinasi tertentu, terutama Bali.
"Jika Anda bertanya kepada siapa saja di luar Asia Tenggara, apa itu Indonesia bagi Anda? Apa jawaban pertama yang akan kami dapatkan? Bali," kata Elhajjar dalam sesi diskusi di NUS Business School, Singapura, Rabu (7/10).
Menurut dia, Bali tetap menjadi destinasi yang menarik. Namun, perkembangan pariwisata yang terlalu terpusat pada destinasi populer dapat membuat wisatawan mencari pengalaman yang berbeda.
"Salah satu tantangan Indonesia, menurut laporan kami, adalah untuk mengembangkan industri turisme ke pulau-pulau baru, kota-kota baru," ujarnya.
Wisatawan Mulai Cari Pengalaman Baru
Elhajjar mengatakan perilaku wisatawan juga mulai berubah. Wisatawan tidak semata-mata menentukan perjalanan berdasarkan lokasi, tetapi semakin mempertimbangkan pengalaman yang ditawarkan suatu destinasi.
"Orang-orang memprioritaskan pengalaman. Tidak penting apakah Bali, Lombok, Jakarta," katanya.
Pengalaman itu dapat berupa kuliner, penerbangan, hingga acara atau kegiatan tertentu. Menurut dia, penyelenggaraan acara berskala besar juga semakin berperan dalam mendorong pariwisata.
Wisatawan ke depan diprediksi akan mencari destinasi yang belum terlalu ramai dikunjungi. Faktor pengalaman, ruang pribadi, serta kebutuhan akan perjalanan yang lebih personal akan semakin memengaruhi keputusan perjalanan.
Tren ini berpotensi mendorong pertumbuhan kota-kota sekunder dan destinasi yang selama ini belum menjadi tujuan utama wisatawan.
Di Indonesia, perubahan itu diproyeksi dapat membuka peluang bagi kota dan pulau lain di luar destinasi utama. "Dan itulah mengapa kami memperkirakan, dalam konteks Indonesia, pertumbuhan di kota-kota dan pulau-pulau lainnya," ujarnya.
Peran AI di Industri Pariwisata
Riset itu juga memproyeksikan peran AI dalam industri pariwisata akan semakin besar. Saat ini, wisatawan sudah menggunakan AI untuk mencari inspirasi, merencanakan perjalanan, dan mendapatkan rekomendasi.
Namun, wisatawan masih belum sepenuhnya percaya menggunakan AI untuk mengambil keputusan, termasuk melakukan pemesanan dan pembayaran.
Elhajjar memperkirakan kondisi ini akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. AI nantinya tidak hanya menjadi pemandu, tetapi juga dapat membantu menentukan pilihan perjalanan wisatawan.
"AI tidak akan menjadi co-traveler atau guide. AI akan menjadi pihak yang mengambil keputusan," katanya.
Perubahan itu membuat pelaku pariwisata perlu menyesuaikan diri dengan perilaku wisatawan. Salah satunya dengan menawarkan pengalaman dan destinasi baru.
