Prajogo Pangestu Masuk Bisnis Tangki Bitumen, Bagaimana Prospeknya?
Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bitumen di dalam negeri.
Di tengah kondisi tersebut, fasilitas tangki penyimpanan bitumen yang dikembangkan grup Prajogo Pangestu di Merak, Banten, berpotensi memperluas pilihan distribusi dan rantai pasok bitumen di Tanah Air.
Katadata sempat mengunjungi peresmian Bitumen Storage Tank Project yang berlokasi di fasilitas RPU, Merak Banten pada Jumat (23/10). Bitumen merupakan material penting dalam pembangunan dan pemeliharaan jalan.
Fasilitas itu lewat PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), melalui anak usahanya PT Redeco Petrolin Utama (RPU). Aksi baru ini demi memperluas portofolio layanan penyimpanan RPU sekaligus memperkuat kapabilitas infrastruktur CDI dalam mendukung kebutuhan industri nasional, khususnya di sektor konstruksi.
Tak hanya Grup Prajogo Pangestu, Grup Salim pun juga berinvestasi melalui entitasnya, yakni PT Salim Chemicals Corpora.
Direktur Utama PT Redeco Petrolin Utama, Lingga Widastri, mengatakan Indonesia masih menjadi importir bersih (net importer) bitumen. Namun, keberadaan fasilitas tangki penyimpanan bitumen tidak serta-merta membuat perusahaan harus mengimpor produk tersebut.
Menurut Lingga, fasilitas tangki bitumen yang dikembangkan Redeco dan grup Chandra Asri dapat mendukung distribusi bitumen, baik untuk pasokan impor maupun kebutuhan domestik. Adapun potensi efisiensi biaya distribusi bergantung pada tingkat utilisasi tangki, jumlah kapal, dan moda distribusi yang digunakan.
“Redeco sendiri secara utilisasi tangki yang existing ya, itu cukup bagus. Walaupun di tengah gejolak peperangan di Middle East tapi utilisasi tanki kita yang existing cukup baik. Jadi ya stabil,” ucap Lingga.
Di industri tanah air, Lingga mengatakan pemerintah memiliki sejumlah program untuk mendukung ketahanan energi nasional, salah satunya melalui pemanfaatan aspal Buton.
Ia menjelaskan, fasilitas tangki bitumen Redeco dibangun untuk memperluas kerja sama dengan berbagai mitra. Ia menyebut adanya fasilitas tersebut tidak berarti perusahaan harus mengimpor bitumen.
“Menjadi distribusi lokal atau distribusi domestik kan juga bisa. Makanya Redeco hadir untuk salah satunya sebagai opsi, solusi bagi semua mitra-mitra kami dalam distribusikan bitumen,” ucap Lingga.
Di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor bitumen, pasar aspal global diproyeksikan terus tumbuh seiring dengan pembangunan infrastruktur dan urbanisasi. Menurut Future Market Report, nilai pasar aspal global mencapai US$11,5 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$19,45 miliar pada 2033, dengan tingkat compound annual growth rate (CAGR) sebesar 6,79% selama periode 2026–2033.
Adapun fasilitas tangki bitumen milik kongsi Grup Salim dan Prajogo itu memiliki kapasitas penyimpanan total sebesar 12.000 m³.
Fasilitas baru tersebut terdiri dari tiga tangki berkapasitas masing-masing 3.000 meter kubik (m³), 4.000 m³, dan 5.000 m³. Dengan penambahan ini, PT Redeco Petrolin Utama (RPU) akan mengoperasikan total 75 tangki penyimpanan untuk berbagai produk, mulai dari petrokimia, minyak bumi, pelumas, hingga bitumen.
Manajemen Chandra Daya Investasi mengatakan keandalan rantai pasok material berperan penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan industri dan pembangunan infrastruktur. Kehadiran fasilitas tangki bitumen ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas penyimpanan RPU untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.
RPU juga akan terus mengoptimalkan infrastruktur dan meningkatkan kemampuan layanannya untuk mendukung kelancaran pasokan material konstruksi serta memenuhi kebutuhan industri nasional.
“Melalui pengembangan fasilitas dan peluang kolaborasi dengan berbagai mitra, kami berharap dapat menghadirkan layanan penyimpanan dan kepelabuhanan yang semakin relevan bagi pelanggan, sekaligus berkontribusi terhadap kelancaran rantai pasok industri dan pembangunan ekonomi Indonesia,” kata manajemen.
Sebagai bagian dari Chandra Asri Group, RPU berpeluang mengembangkan sinergi dengan bisnis lain dalam grup untuk mengintegrasikan rantai pasok bitumen. Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (Aster) memiliki kapabilitas dalam pasokan bitumen, sedangkan PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT SCG Barito Logistics (SBL) bergerak di bidang logistik dan transportasi.
