Jejak Bisnis Limbah TOBA di Asia, Sampah hingga Energi untuk Industri Petrokimia
Manuver PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) di industri pengolahan limbah kian agresif di kawasan Asia. Perusahaan mengembangkan bisnis terintegrasi, mulai dari pengumpulan sampah, daur ulang, pengolahan limbah medis, hingga memasok energi untuk kebutuhan industri.
Ekspansi bisnisnya menarik investasi 555 juta dolar Singapura atau sekitar Rp 7,77 triliun dari HPS Investment Partners, perusahaan investasi yang terafiliasi dengan BlackRock.
Menurut Mordor Intelligence, nilai pasar pengelolaan limbah industri di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan mencapai US$ 36,39 miliar pada 2025 dan tumbuh menjadi US$ 46,05 miliar pada 2030. Pasar ini diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 4,82% selama periode 2025–2030.
Berdasarkan siaran pers TBS, investasi HPS akan dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen baru ke anak usaha SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH) dan instrumen lainnya. Pendanaan tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis pengelolaan sampah TBS di kawasan Asia, baik secara organik maupun melalui akuisisi.
Di Singapura, TBS mengelola bisnis pengolahan limbah melalui Cora Environment, perusahaan yang sebelumnya Sembcorp Environment dan SembWaste. Cora mengumpulkan sampah dari rumah tangga, pelaku usaha, dan industri. Perusahaan ini juga memilah sampah dan mendaur ulang material yang masih bisa dimanfaatkan melalui fasilitas material recovery facility.
Selain itu Cora juga mengolah sampah menjadi energi melalui fasilitas Energy-from-Waste (EfW) di Singapura. Fasilitas ini mampu mengolah sekitar 360.000 ton limbah per tahun dan menghasilkan sekitar 1,2 juta ton uap industri (steam) untuk memasok kebutuhan pabrik di Jurong Island, kawasan industri dan petrokimia utama di Singapura.
Alih-alih menghasilkan listrik seperti fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), fasilitas EfW Cora memanfaatkan panas pembakaran sampah untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi. Cora juga tidak hanya mengandalkan pengolahan sampah menjadi energi, tetapi juga menjalankan bisnis pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang limbah.
Di luar Cora, TBS mengelola limbah medis di Singapura melalui Asia Medical Enviro Services (AMES). Sementara itu, di Indonesia, PT Arah Environmental Indonesia menangani limbah medis, industri, dan rumah tangga di 15 provinsi. Ketiga bisnis tersebut mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah sepanjang semester I/2026.
Adapun bisnis pengelolaan limbah TBS mencakup pengumpulan dan pemilahan sampah, daur ulang, pengolahan limbah medis dan industri, hingga pemanfaatan sampah untuk menghasilkan uap bagi kebutuhan industri.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi, menilai bisnis pengelolaan limbah TBS memiliki peluang pertumbuhan yang lebih luas karena mencakup berbagai layanan, bukan hanya pembangkit listrik tenaga sampah.
Menurut Leonardo, diversifikasi layanan memungkinkan TBS memperoleh pendapatan berulang dari kebutuhan pengelolaan limbah rumah tangga dan industri. Model bisnis ini juga membuka peluang bagi perusahaan untuk memperbesar skala usaha melalui ekspansi ke pasar regional.
“Hal ini menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang,” kata Leo dalam analisisnya, dikutip Rabu (28/10).
