Dubes Rusia: Presiden Putin Ingin Jadi Bagian dari Agenda G20
Pemerintah Rusia mendukung penuh agenda Presidensi G20 yang akan digelar di Bali pada November mendatang.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila G. Vorobieva mengatakan setelah menerima undangan G20, Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan intensinya untuk menjadi bagian dari pertemuan G20 di Bali. Menurutnya, forum ini seharusnya memang berkonsentrasi pada isu ekonomi dan finansial global serta tidak menyeret agenda politik.
“Kami sangat mendukung prioritas Presidensi G20. Kami juga menghargai Indonesia yang tidak menyerah terhadap tekanan sejumlah negara untuk mengeluarkan Rusia dari G20,” katanya saat berbincang dengan Katadata awal pekan lalu.
Vorobieva menegaskan pihaknya tidak akan membawa agenda khusus ke forum G20. Ia menyebut mendukung agenda yang sudah disepakati seperti pemulihan ekonomi global setelah pandemi Covid-19, penguatan sistem layanan kesehatan, serta transisi energi dan informasi digital.
Sementara itu, terkait dengan permintaan Amerika Serikat untuk mengeluarkan Rusia dari perhelatan G20, Vorobieva menyebut G20 masih tetap relevan tanpa kehadiran AS. Menurutnya, G20 tetap relevan jika negara lain seperti Cina, India, Rusia, sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, berpartisipasi.
“Bagaimana akan membahas isu seperti ketahanan energi tanpa melibatkan Rusia? Itu mustahil dan tidak relevan,” katanya.
Selain mengundang Rusia, Presiden Jokowi juga sudah menyampaikan undangan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Melalui sambungan telepon pada Rabu (27/4), Jokowi bebincang dengan Zelensky untuk membicarakan situasi terkni di Indonesia. Presiden mengungkapkan Ukraina sempat meminta bantuan persenjataan dari Indonesia.
“Saya menegaskan bahwa sesuai amanat konstitusi Indonesia dan prinsip luar negeri Indonesia, melarang pemberian bantuan persenjataan kepada negara lain,” kata Jokowi.
Sebagai gantinya, Presiden menjanjikan kesiapan Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Menurut Jokowi, G20 memiliki peran sebagai katalisator dalam pemulihan ekonomi dunia.
“Terdapat dua hal besar yang mempengaruhi saat ini. Yaitu, yang pertama pandemi COVID-19 dan yang kedua perang di Ukraina,” ujar Presiden.