Menlu Retno Kecewa Resolusi Gencatan Senjata Gaza Gagal di PBB

Safrezi Fitra
10 Desember 2023, 09:27
Menlu Retno Kecewa Resolusi Gencatan Senjata Gaza Gagal di PBB, gencatan senjata, pbb, dk pbb, veto amerika di pbb, perang israel, gaza
ANTARA FOTO/Media Center KTT AIS Forum 2023/Jessica Wuysang/nym.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan kekecewaannya kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang gagal mengadopsi rancangan resolusi gencatan senjata di jalur Gaza, Palestina. Padahal, dari 15 negara anggota Dewan Keamanan (DK) PBB, sebanyak 13 negara mendukung gencatan senjata menghentikan pertumpahan darah di Jalur Gaza.

“Saya sangat menyesalkan kegagalan Dewan Keamanan (PBB) dalam mengadopsi gencatan senjata kemanusiaan di Gaza meskipun lebih dari 102 negara, termasuk Indonesia, ikut mensponsori resolusi tersebut,” kata Retno di platform media sosial X, Sabtu (10/12).

Dia menegaskan bahwa komunitas global tidak bisa terus bergantung pada belas kasihan beberapa negara dan tidak berdaya menyaksikan kekejaman dan pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak di Gaza.

Amerika Serikat memveto resolusi gencatan senjata di Gaza pada pemutungan suara Dewan Keamanan PBB, Jumat (8/12). Padahal sebelumnya, mayoritas anggota DK PBB menyetujui gencatan senjata di Gaza dengan segera sebagai penentu bagi nasib jutaan nyawa Palestina. Tiga belas anggota sepakat mendukung rancangan resolusi DK PBB yang diajukan oleh Uni Emirat Arab, sementara Inggris abstain.

"Kami tidak mendukung seruan gencatan senjata yang tidak dapat dipertahankan dalam resolusi ini yang hanya akan menanamkan benih untuk perang berikutnya,” ucap Duta Besar AS Deputi untuk PBB, Robert Wood seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/12). Amerika Serikat dan Israel menentang gencatan senjata, dengan menyatakan bahwa hal itu hanya akan menguntungkan Hamas.

Rancangan resolusi tersebut menyerukan semua pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum internasional, khususnya perlindungan bagi warga sipil, menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera dan meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk melaporkan kepada dewan tersebut mengenai pelaksanaan gencatan senjata.

Uni Emirat Arab (UAE), yang mengajukan rancangan tersebut, mengatakan bahwa mereka berupaya menyelesaikan resolusi tersebut segera karena meningkatnya jumlah korban tewas selama perang yang telah berlangsung selama 63 hari.

Menurut otoritas kesehatan Gaza, hingga saat ini perang antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober lalu telah menewaskan 17.700 orang Palestina. Adapun sebanyak 46 ribu orang mengalami luka-luka akibat serang Israel. Sekitar 70 persen dari jumlah korban tewas adalah perempuan dan anak-anak, dan sekitar 1,8 juta warga telah mengungsi ke wilayah yang lebih aman.

Israel melancarkan perang di Gaza sebagai balasan atas serangan lintas batas yang dilakukan kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel dan 240 lainnya dibawa ke Gaza sebagai sandera.

Gencatan senjata sempat terjadi selama sepekan pada akhir November. Saat gencatan senjata tersebut sekitar 100 sandera dibebaskan dan pengiriman bantuan kemanusiaan mulai diperbolehkan ke Gaza, meski jumlahnya sangat sedikit dibandingkan waktu sebelum perang.

Namun, setelah gencatan senjata berakhir pada 1 Desember, jumlah bantuan kembali dikurangi. Israel pun kembali melanjutkan serangan ke Gaza, bahkan lebih masif dari sebelumnya, dengan melancarkan serangan darat dan udara.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...