Serangan Tarif Trump: Negara Mana yang Paling Terancam?

Martha Ruth Thertina
6 Maret 2025, 17:13
Presiden Donald Trump telah mengumumkan kebijakan tarif timbal balik untuk Kanada, Meksiko, dan Cina. Kebijakan tarif Trump bisa meluas ke negara lainnya.
Instagram/@realdonaldtrump
Presiden Donald Trump telah mengumumkan kebijakan tarif timbal balik untuk Kanada, Meksiko, dan Cina. Kebijakan tarif Trump bisa meluas ke negara lainnya.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dunia di ambang perang dagang jilid II. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam segera menerapkan kebijakan tarif timbal balik kepada negara-negara yang mengenakan tarif tinggi terhadap produk AS. Ancaman ini berlaku bukan hanya untuk negara rival seperti Cina, tapi negara sahabat. Negara-negara Asia Tenggara pun dihinggapi kekhawatiran seiring surplus dagang ke AS.

Menurut Trump, negara yang menerapkan tarif tinggi ke produk AS, tak terhitung jumlahnya. “India mengenakan tarif otomotif lebih dari 100 persen kepada kita. Tarif rata-rata yang dikenakan Cina kepada kita dua kali lipat dari yang kita kenakan kepada mereka. Sementara Korea Selatan mengenakan tarif empat kali lipat lebih tinggi. Ini tidak adil bagi AS dan tidak akan kita biarkan lagi,” ujar Trump dalam pidato di depan Kongres, Selasa (4/3).

Trump meyakini kebijakan tarif timbal balik ini bakal membuat ekonomi AS cepat bangkit dari keterpurukan. Dengan kebijakan ini, Trump setidaknya membidik dua hal. Pertama, kenaikan investasi dan penciptaan lapangan kerja. Trump ingin “memaksa” perusahaan-perusahaan yang menjual produk di AS juga melakukan produksi di tanah Paman Sam itu.

Kedua, peningkatan daya saing produk-produk ekspor AS. Ancaman tarif timbal balik telah membuat sejumlah negara mitra dagang antre bernegosiasi dengan AS. Negosiasi yang tengah berjalan di antaranya dengan India. Kabarnya, AS telah meminta India membebaskan tarif bea masuk untuk mobil Tesla.

Trump menyatakan kebijakan tarif timbal balik mulai berlaku pada 2 April. “Apa pun tarif yang mereka kenakan kepada kita, kita akan mengenakan tarif yang sama kepada mereka,” ujarnya.

Sementara ini, Trump telah mengumumkan tarif 25 persen terhadap nyaris seluruh produk Kanada and Meksiko. Trump juga menambah tarif untuk produk Cina menjadi 20 persen. Selain balasan dari hubungan dagang yang dianggap tak adil, tarif juga sebagai hukuman atas banjir fentanil -- obat penghilang rasa sakit yang marak disalahgunakan di AS sebagai narkoba.

Serangan Tarif Trump Bayangi Banyak Negara, Termasuk ASEAN

Kebijakan tarif timbal balik membayangi banyak negara mitra dagang AS, termasuk negara-negara ASEAN. Pasalnya, AS tengah mengkaji kebijakan negara-negara dimana AS mencatatkan defisit dagang. Jika AS menemukan adanya ketidakadilan tarif terhadap produknya, maka negara tersebut akan menerapkan kebijakan balasan.  

Data Biro Sensus AS menunjukkan, neraca perdagangan barang AS sudah lima puluh tahun mengalami defisit dagang atau sejak 1975. Pada 2024, defisit mencapai US$ 1,2 triliun. Katadata mencatat AS setidaknya mengalami defisit dagang antara belasan hingga ratusan miliar dolar dengan 18 negara, termasuk Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.     

Petinggi ASEAN merencanakan pertemuan dengan AS untuk membicarakan soal tarif. Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Marie Elka Pangestu mengatakan AS mencatatkan defisit dagang dengan Indonesia, tapi jumlahnya tergolong kecil. Meski begitu, Indonesia tetap harus bersiap diri.

Menurut dia, tetap ada kemungkinan tuntutan dari AS soal hambatan tarif dan non-tarif yang dihadapi perusahaan-perusahaan AS di Indonesia, misalnya Apple. "Jadi saya pikir kita harus memikirkan bagaimana untuk bergabung dengan AS dan membuat jenis perjanjian yang benar termasuk menjanjikan untuk membeli lebih banyak dari AS," katanya.

Perang dagang kali ini bisa jadi lebih berat. Namun, ia menilai Indonesia tidak boleh terlalu terdistraksi. Indonesia harus terus memperkuat perdagangan internasional lewat kerjasama di tingkat regional hingga diversifikasi produk ekspor.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...