Ratusan Pejabat Mossad Israel Tandatangani Petisi Akhiri Perang Gaza

Yuliawati
Oleh Yuliawati
14 April 2025, 16:26
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina membawa poster saat mengikuti aksi damai bela Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Jumat (21/3/2025).
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina membawa poster saat mengikuti aksi damai bela Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Jumat (21/3/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lebih dari 250 mantan pejabat badan intelijen Israel Mossad menerbitkan petisi baru pada Minggu malam menyerukan segara diakhirinya perang di Gaza serta memfasilitasi pembebasan para sandera, menurut media Israel.

Menurut harian Yedioth Ahronoth, "Surat yang diinisiasi mantan anggota Mossad Gail Shorsh tersebut, memiliki tanda tangan tiga mantan pemimpin Mossad yaitu Danny Yatom, Ephraim Halevy dan Tamir Pardo, serta puluhan kepala departemen dan wakil kepala departemen lembaga itu.

Petisi kedua dalam 24 jam yang ditandatangani mantan dan anggota aktif pasukan keamanan Israel.

Petisi tersebut menambah gelombang penolakan publik yang terus berkembang di kalangan lembaga keamanan Israel. Sejak Kamis, sedikitnya enam petisi telah ditandatangani oleh pasukan cadangan, perwira militer yang telah pensiun, serta para veteran dari berbagai cabang militer Israel.

Sebelumnya pada Minggu, sekitar 200 dokter cadangan militer aktif juga menandatangani petisi yang menuntut diakhirinya perang dan pengembalian para sandera yang ditawan di Gaza.

Mesir Bahas Gencatan Senjata Gaza dengan Oman, Iran dan AS

Pembahasan gencatan senjata di Jalur Gaza melibatkan Mesir, Oman, Iran dan AS. Menteri luar negeri Mesir Badr Abdelatty pada Minggu mengadakan pembicaraan gencatan senjata dengan mitranya dari Oman dan Iran, serta utusan AS Steve Witkoff.

Abelatty mengadakan percakapan telepon terpisah dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas putaran negosiasi tidak langsung baru-baru ini di Oman antara Teheran dan Washington, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir.

Diplomat tinggi Mesir itu juga mengadakan pembicaraan serupa dengan Witkoff.

Dia memuji "peran konstruktif dan vital" Oman dalam memfasilitasi negosiasi dan menegaskan kembali dukungan penuhnya untuk "semua upaya yang bertujuan untuk mencapai solusi politik melalui dialog dan negosiasi untuk memperkuat keamanan dan stabilitas regional."

Abdelatty juga memuji AS dan Iran atas nada kerja sama dan kemauan mereka untuk menempuh jalur diplomatik, dengan menyatakan bahwa keterlibatan tersebut "membuka pintu bagi solusi yang mengurangi ketegangan di kawasan."

Abdelatty berharap bahwa dialog yang sedang berlangsung akan "memulai fase baru de-eskalasi" dan dengan cepat mengarah pada gencatan senjata permanen di Gaza.

Pembicaraan itu dilakukan sehari setelah Oman menjadi tuan rumah putaran pertama perundingan tidak langsung AS-Iran, dengan kedua belah pihak menggambarkan diskusi tersebut "positif dan konstruktif." Sementara, putaran kedua dijadwalkan berlangsung minggu depan.

Perundingan tersebut berpusat pada program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi.

Sementara Washington dan Tel Aviv menuduh Iran berupaya mendapatkan senjata nuklir, namun Teheran menegaskan programnya semata-mata untuk tujuan damai, termasuk pembangkitan listrik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...