Serba-serbi Paus Leo XIV: Misi Keadilan Sosial hingga Tak Klop dengan Trump

Kamila Meilina
10 Mei 2025, 16:15
Paus Leo XIV
Vatikan News
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kardinal Robert Francis Prevost terpilih menjadi Paus ke-267. Pria berusia 69 tahun tersebut memilih nama Paus Leo XIV. Dalam misa perdananya sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Leo XIV menyerukan persatuan dan keadilan sosial, serta menegaskan posisi Gereja dalam membela kaum imigran yang terpinggirkan.

Ia menyampaikan pesan tersebut dalam pidato publik pertamanya dari balkon Basilika Santo Petrus, sehari setelah terpilih sebagai paus.

“Membangun jembatan, dengan dialog, melalui pertemuan, menyatukan semua orang untuk menjadi satu umat, selalu damai,” kata Paus Leo XIV di hadapan ribuan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (10/5). “Kejahatan tidak akan menang.”

‘Leo’ sebagai Komitmen Keadilan Sosial 

Pilihan nama “Leo” olehnya menjadi penanda komitmen terhadap nilai-nilai keadilan sosial. Nama tersebut merujuk pada Paus Leo XIII yang dikenal sebagai penggagas ensiklik Rerum Novarumpada 1891, sebuah dokumen penting yang membela hak-hak buruh dan kelas pekerja di tengah revolusi industri.

Isu imigrasi selalu menjadi salah satu perhatian utama Prevost. Sebelum diangkat menjadi paus, ia secara terbuka kerap mengkritik pendekatan keras Amerika Serikat (AS) terhadap imigran, terutama yang diterapkan pemerintahan Donald Trump. 

Pada Februari lalu, dalam sebuah unggahan di media sosial X, ia menanggapi pandangan Wakil Presiden AS J.D. Vance tentang "Ordo Amoris", sebuah konsep teologis yang menyatakan bahwa cinta harus diatur berdasarkan hierarkis.

Leo XIV menolak interpretasi Vance yang digunakan untuk membenarkan perlakuan berbeda terhadap imigran. “J.D. Vance salah: Yesus tidak meminta kita untuk memberi peringkat cinta kita kepada orang lain,” tulisnya.

Pernyataan ini menjadi bagian dari pendekatan moral Paus yang menekankan bahwa kasih dan solidaritas Kristen tidak terbatas oleh kebangsaan atau status hukum seseorang.

Isu ini sejalan dengan pengalaman misionaris dan keuskupannya sebagai mantan misionaris dan uskup di Peru selama dua dekade. Ia melihat secara langsung penderitaan akibat krisis migran di Amerika Latin.

Leo XIV yang dekat dengan nilai-nilai progresif berada dalam posisi yang unik, terutama terkait politik dalam negeri Amerika. Meski berasal dari AS, ia lebih berpihak pada solidaritas global dan bisa menjadi suara moral yang mengkritik kebijakan negaranya sendiri. 

Misalnya, pada isu perubahan iklim, Trump menarik AS keluar dari Perjanjian Paris dan memangkas pendanaan untuk pengembangan kendaraan listrik. Paus Leo bertentangan dengan cara Trump tersebut.

Melanjutkan Nilai-nilai Paus Fransiskus

Paus Leo XIV diyakini memiliki pandangan yang sama dengan Fransiskus tentang migran, kaum miskin, dan lingkungan. Seorang mantan teman sekamarnya, Pastor John Lydon, menggambarkan Prevost sebagai orang yang "ramah", "rendah hati", dan "sangat peduli dengan kaum miskin". 

Meskipun Prevost adalah orang Amerika, dan akan sepenuhnya menyadari perpecahan dalam Gereja Katolik, latar belakangnya di Amerika Latin juga merupakan kelanjutan dari seorang Paus yang berasal dari Argentina. Vatikan menggambarkannya sebagai paus kedua dari benua Amerika, setelah Paus Fransiskus. Dia juga merupakan paus Agustinian pertama. 

Juru bicara Vatikan Matteo Bruni mengatakan selama pertemuan Dewan Kardinal beberapa hari sebelum konklaf, mereka menekankan perlunya seorang Paus dengan "semangat kenabian yang mampu memimpin Gereja yang tidak menutup diri tetapi tahu bagaimana keluar dan membawa terang ke dunia yang ditandai oleh keputusasaan."

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...