Demo Tolak Blokir Instagram hingga WhatsApp di Nepal Ricuh, 19 Orang Meninggal

Desy Setyowati
9 September 2025, 07:32
Demo di Nepal, demo ricuh di nepal, nepal blokir instagram,
TikTok, Katadata/Desy Setyowati
Demo berakhir ricuh di Nepal
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sebanyak 19 orang meninggal dunia selama demo berujung ricuh di Nepal, yang menentang pemerintah memblokir 26 platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp dan X atau Twitter.

Nepal memblokir 26 media sosial karena perusahaan-perusahaan itu terlambat mendaftarkan platform-nya, merujuk pada peraturan baru.

Namun masyarakat menolak pemblokiran media sosial seperti Instagram, WhatsApp dan X. Warga kemudian melakukan demo di ibu kota, Kathmandu, dan di kota-kota kecil di seluruh negeri.

TikTok tidak diblokir, karena mematuhi aturan. Akan tetapi, The Guardian melaporkan TikTok menjadi alat mobilisasi utama masyarakat yang berdemo.

Sejak pemblokiran media sosial, video yang membandingkan perjuangan warga Nepal biasa dengan anak-anak politisi yang memamerkan barang-barang mewah dan liburan mahal atau flexing, viral di TikTok. Hal ini semakin memicu kemarahan terhadap pemerintah.

Dikutip dari The Guardian, puluhan ribu orang, sebagian besar anak muda, berkumpul untuk memprotes larangan tersebut. Demo ini juga menuduh pemerintah yang dipimpin oleh perdana menteri KP Sharma Oli melakukan korupsi dan otoritarianisme.

Di Kathmandu, bentrokan dengan polisi meletus saat para pengunjuk rasa menerobos penghalang dan berupaya menyerbu gedung DPR dan membakar pintu gerbang.

Polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata. Polisi mengonfirmasi sedikitnya 19 orang tewas akibat luka serius yang diderita dalam demo ini, termasuk luka tembak di kepala dan dada.

Sebagian besar korban meninggal dunia dalam bentrokan di Kathmandu. Selain itu, dua korban lainnya tewas ketika protes berubah menjadi kekerasan di kota Itahari di bagian timur.

Lebih dari 200 orang terluka dan sedang dirawat di rumah sakit imbas demo berakhir ricuh terkait pemblokiran media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Demonstrasi itu diberi label ‘protes gen Z’ sebagai penghormatan kepada gerakan yang dipimpin oleh kaum muda yang menghindari pemblokiran media sosial untuk memobilisasi massa.

Banyak pengunjuk rasa, beberapa mengenakan seragam sekolah, berusaha menekankan bahwa mereka turun ke jalan sebagai bagian dari agenda yang lebih besar untuk melawan korupsi dan nepotisme yang mereka duga merajalela di kalangan elite politik Nepal.

Mereka mengangkat plakat bertuliskan slogan-slogan seperti ‘pemuda melawan korupsi’.

Korban tewas yang mencapai 19 orang juga menambah kemarahan masyarakat, sehingga demo berlanjut hingga malam hari, meskipun pemerintah telah memberlakukan jam malam di wilayah-wilayah yang dilanda kerusuhan.

Pada Senin (8/9) malam, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak mengundurkan diri sebagai tanggapan atas pembunuhan demonstran yang dilakukan oleh polisi.

PBB menuntut penyelidikan segera terhadap kekerasan negara yang dilakukan terhadap para demonstran.

"Kami terkejut dengan pembunuhan dan cedera yang dialami para pengunjuk rasa di Nepal hari ini dan mendesak penyelidikan yang cepat dan transparan," kata juru bicara kantor hak asasi manusia PBB Ravina Shamdasani dalam pernyataan pers, dikutip dari The Guardian, Selasa (9/9).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...