64 Orang Tewas saat Operasi Polisi Jelang COP30 Brasil, Terparah dalam Sejarah

Tia Dwitiani Komalasari
29 Oktober 2025, 07:48
Delegasi berjalan di area Paviliun Brasil pada Konferensi Perubahan Iklim COP29 UNFCCC di Baku, Azerbaijan, Senin (18/11/2024). Brasil akan menjadi tuan rumah satu-satunya forum pengambilan keputusan multilateral di dunia tentang perubahan iklim yang memp
ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc.
Delegasi berjalan di area Paviliun Brasil pada Konferensi Perubahan Iklim COP29 UNFCCC di Baku, Azerbaijan, Senin (18/11/2024). Brasil akan menjadi tuan rumah satu-satunya forum pengambilan keputusan multilateral di dunia tentang perubahan iklim yang mempertemukan hampir setiap negara di Bumi (COP30) pada tahun 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Setidaknya 64 orang tewas dalam operasi polisi Rio de Janeiro, Brasil, pada Selasa malam (28/10). Ini merupakan operasi polisi paling mematikan yang pernah terjadi di Rio de Janeiro, yang menargetkan geng besar beberapa hari sebelum kota tersebut menjadi tuan rumah acara global terkait KTT iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikenal sebagai COP30.

Polisi telah sering melakukan operasi skala besar terhadap kelompok kriminal menjelang acara-acara besar di Rio, seperti menjadi tuan rumah Olimpiade 2016, KTT G20 2024, dan KTT BRICS pada bulan Juli.

Minggu depan, Rio akan menjadi tuan rumah KTT global C40 para wali kota yang menangani perubahan iklim dan Earthshot Prize Pangeran William, yang akan menampilkan selebritas termasuk bintang pop Kylie Minogue dan juara dunia Formula Satu empat kali Sebastian Vettel. Program ini merupakan bagian dari persiapan menuju COP30, KTT iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diadakan di kota Amazon, Belem, dari 10 hingga 21 November.

Jumlah korban tewas yang dikonfirmasi oleh Gubernur Rio Claudio Castro termasuk empat petugas polisi, lebih dari dua kali lipat jumlah korban tewas dalam operasi polisi paling mematikan di Rio sebelumnya. Operasi tersebut melibatkan 2.500 personel keamanan di kompleks favela Alemao dan Penha, dekat bandara internasional kota itu.

"Kami teguh dalam menghadapi narkoterorisme," tulis Castro di media sosial seperti dikutip dari Reuters.

Favela-favela di Rio adalah permukiman miskin dan padat penduduk yang terjalin di antara perbukitan pesisir kota. Asap mengepul pada Selasa pagi di atas cakrawala kota yang ikonis ketika geng-geng membakar mobil untuk memperlambat laju kendaraan lapis baja sementara rentetan tembakan terdengar.

Polisi merilis video yang menunjukkan para tersangka menggunakan drone bersenjata granat untuk melawan polisi. Rekaman itu juga menunjukkan orang-orang bersenjata melarikan diri ke area hutan di dekat lokasi operasi.

Setelah pertempuran paling sengit mereda, seorang jurnalis Reuters melihat polisi dari unit operasi khusus mengumpulkan puluhan pria bertelanjang dada. Anggota keluarga yang terisak-isak berkumpul di luar rumah sakit umum yang merawat mereka yang terluka.

Pemerintah negara bagian Rio menyebut operasi Selasa sebagai yang terbesar yang pernah menargetkan geng Comando Vermelho. Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski mengatakan pemerintah federal belum menerima permintaan dukungan dari otoritas negara bagian sebelum operasi "berdarah" tersebut, dan menambahkan bahwa ia telah mengikuti perkembangan melalui laporan media.

Bentrokan tersebut mengganggu rutinitas puluhan sekolah dan fasilitas medis, mengalihkan rute bus, dan menyebabkan kemacetan lalu lintas di beberapa lingkungan di ibu kota negara bagian.

Castro mengonfirmasi 81 penangkapan sementara pihak berwenang berupaya mengeluarkan 250 surat perintah penangkapan dan penggeledahan dalam operasi yang menargetkan terduga gembong narkoba dan operasi pencucian uang mereka.

Namun, beberapa kelompok masyarakat sipil mengkritik tingginya korban jiwa dalam operasi bergaya militer tersebut. Carolina Ricardo, direktur eksekutif lembaga kajian keamanan Sou da Paz, menyebutnya sebagai tragedi.

"Ini adalah pendekatan yang sepenuhnya gagal, karena tidak benar-benar menargetkan mata rantai dalam rantai produksi narkoba," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...