Jerman, Belgia dan Spanyol Tolak Gabung Koalisi AS-Israel Lawan Iran
Gelombang penolakan negara-negara Eropa yang bergabung dalam koalisi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai bermunculan. Jerman dan Belgia mengikuti Spanyol, mengumumkan penolakan terlibat dalam operasi militer terhadap Teheran.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mengatakan negaranya tidak akan ikut dalam konflik tersebut. “Jerman bukan pihak dalam perang ini. Angkatan Bersenjata Jerman tidak akan berpartisipasi dalam perang ini,” kata Pistorius dalam debat parlemen, sebagaimana diberitakan oleh TRTWorld pada Rabu (4/3).
Ia menyampaikan Jerman akan melakukan segala upaya untuk membantu meredakan ketegangan serta mencegah meluasnya konflik ke depannya.
Di Brussel, Menteri Pertahanan Belgia Theo Francken menyampaikan pesan yang serupa. Ia mengatakan kepada parlemen bahwa Belgia tidak akan mendukung operasi militer AS dan Israel terhadap Iran. “Kami tidak akan melakukan itu,” kata Francken.
Francken menjelaskan Belgia tetap dapat merespons permintaan resmi dari negara seperti Yordania atau Uni Emirat Arab sesuai hukum internasional. Selain itu, kewajiban Uni Eropa juga dapat menuntut Belgia memberikan bantuan kepada Siprus yang dikelola pemerintah Yunani jika diperlukan. Namun ia menegaskan bahwa bergabung dalam operasi ofensif terhadap Iran adalah persoalan yang berbeda.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di kalangan negara Uni Eropa seiring meluasnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu serangan balasan Teheran berupa rudal dan drone di berbagai wilayah kawasan.
Sikap Jerman dan Belgia menunjukkan bahwa jalur diplomasi dinilai lebih tepat dibanding memperdalam keterlibatan militer dalam konflik tersebut.
Spanyol Tak Khawatir Ancaman dari Trump
Melansir pemberitaan Al Jazeera pada 4 Maret lalu, Spanyol membantah klaim Gedung Putih yang menyebut Madrid telah menyetujui kerja sama dengan militer AS. Spanyol juga menegaskan kembali penolakannya terhadap perang melawan Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump mengancam akan memutus hubungan perdagangan.
Perdana Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sanchez, mengatakan Spanyol tak mau mengulangi kesalahan di masa lalu. “Pada 2003, beberapa pemimpin yang tidak bertanggung jawab menyeret kita ke dalam perang ilegal di Timur Tengah yang hanya membawa ketidakamanan dan penderitaan,” tulis Sanchez di media sosial X pada Rabu (4/3).
Ia menggarisbawahi posisi Spanyol konsisten tetap menolak perang, pelanggaran hukum internasional, serta ilusi bahwa masalah dunia dapat diselesaikan dengan bom.
PM Pedro Sanchez juga mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari lalu. Ia menyebut serangan yang menewaskan Pemimpin Agung (Ayatullah) Ali Hosseini Khamenei itu sebagai tindakan berbahaya di luar kerangka hukum internasional.
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, juga menegaskan negaranya tidak akan mengizinkan penggunaan pangkalan militer di wilayahnya di luar ketentuan perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pernyataan itu merujuk pada pangkalan angkatan laut Rota dan pangkalan udara Moron yang terletak di Provinsi Cadiz. AS mengoperasikan kedua pangkalan tersebut melalui skema penggunaan bersama, namun fasilitas itu tetap berada di bawah kedaulatan Spanyol.
