Kapal Iran Tenggelam seusai Latihan di India, Sikap New Delhi Jadi Sorotan
Sikap India menjadi sorotan setelah kapal perang Iran diserang dan tenggelam di Samudra Hindia ketika sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan angkatan laut di India. Insiden tersebut memicu pertanyaan publik mengenai posisi New Delhi dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran itu.
Portal media daring asal India, The Quint pada Kamis (5/3), memberitakan bahwa Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, telah berkomunikasi dengan pejabat dari Iran untuk membahas situasi keamanan yang semakin memburuk di kawasan.
New Delhi juga menanggapi informasi keliru mengenai keterlibatannya dalam konflik itu. Kementerian Luar Negeri India membantah narasi yang menyebut pelabuhan-pelabuhan di Negeri Anak Benua itu digunakan oleh Angkatan Laut AS untuk operasi militer melawan Iran. India menyebut laporan tersebut tidak berdasar dan dibuat-buat.
Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi, menyampaikan India menjunjung tinggi prinsip supremasi hukum, dialog, dan diplomasi dalam menyelesaikan konflik. Ia menilai konflik militer tidak dapat menjadi solusi bagi persoalan apa pun, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengguncang kawasan Asia Barat.
PM Modi menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb pada Kamis (5/3).
“India dan Finlandia percaya pada supremasi hukum, dialog, dan diplomasi. Konflik militer saja tidak dapat menyelesaikan masalah apa pun, baik itu Ukraina atau Asia Barat. Kami berdua yakin bahwa lembaga-lembaga global membutuhkan reformasi mendesak,” kata Narendra Modi, seperti dilansir Hindustantimes.
Laporan Associated Press (AP) pada Jumat (6/3) ini menyebut kapal perang Iran, IRIS Dena, sebelumnya mengikuti kegiatan angkatan laut yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut India. Kapal tersebut kemudian meninggalkan kawasan itu untuk kembali ke Iran.
IRIS Dena kemudian diserang oleh kapal selam AS di perairan dekat Sri Lanka saat berada di jalur pelayaran internasional. Serangan torpedo itu menenggelamkan kapal dan menewaskan 87 awak. Sementara 32 pelaut lainnya telah diselamatkan oleh otoritas Sri Lanka.
Angkatan Laut Sri Lanka sebelumnya menyatakan menerima sinyal darurat dari IRIS Dena. Namun saat tiba di lokasi, kapal itu sudah tidak terlihat dan hanya tersisa tumpahan minyak serta para pelaut yang terapung di laut. Para pelaut yang diselamatkan kemudian dibawa ke rumah sakit di kota Galle yang terletak di pesisir selatan Sri Lanka.
Angkatan Laut dan Kementerian Pertahanan India menyatakan kapal perang Iran tersebut mengikuti International Fleet Review dan latihan angkatan laut multilateral MILAN 2026 yang diselenggarakan Angkatan Laut India di pelabuhan Visakhapatnam pada 15–25 Februari. Kementerian itu menyebut kegiatan itu diikuti oleh 74 negara.
Angkatan Laut India juga sempat menampilkan kapal perang Iran itu berlayar di laut dalam unggahan di media sosial X pada 17 Februari. Unggahan lain memperlihatkan sejumlah awak kapal berpose di geladak dengan bendera Iran di latar belakang.
Insiden itu memicu perdebatan di India. Sejumlah pihak mempertanyakan sikap pemerintah karena kapal Iran tersebut berada di kawasan setelah mengikuti kegiatan militer yang diadakan India.
Para pemimpin oposisi India mempertanyakan minimnya respons pemerintah terhadap insiden tersebut. Mereka menilai tenggelamnya kapal perang Iran IRIS Dena yang terjadi dekat kawasan maritim India seharusnya mendorong pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi.
Partai oposisi Indian National Congress mengkritik apa yang mereka sebut sebagai “sikap diam” pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi. Pemimpin oposisi, Rahul Gandhi mengatakan konflik tersebut telah mencapai kawasan dekat India.
“Konflik ini telah sampai di halaman belakang kita, dengan sebuah kapal perang Iran tenggelam di Samudra Hindia. Namun Perdana Menteri tidak mengatakan apa pun,” tulis pemimpin oposisi Rahul Gandhi dalam unggahan di media sosial X pada Kamis (5/3).
Menteri Luar Negeri India periode 2002–2003, Kanwal Sibal, menilai India tidak memiliki tanggung jawab politik maupun militer atas serangan AS terhadap IRIS Dena. Namun, menurutnya, India tetap memikul tanggung jawab secara moral dan kemanusiaan.
Dalam unggahan di media sosial X, Sibal menilai Washington tidak mempertimbangkan sensitivitas New Delhi dalam insiden tersebut. Ia menggarisbawahi kapal perang Iran itu berada di perairan sekitar kawasan tersebut karena sebelumnya menghadiri kegiatan angkatan laut atas undangan India.
“Amerika Serikat telah mengabaikan sensitivitas India. Kapal itu berada di perairan ini karena undangan India,” tulis Sibal.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan, tenggelamnya kapal perang IRIS Dena menunjukkan bahwa operasi militer gabungan bersama Israel terhadap Iran telah meluas melampaui wilayah negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai Angkatan Laut AS melakukan kekejaman di laut dengan menenggelamkan kapal fregat IRIS Dena. Melalui media sosial pada Kamis (5/3), ia juga menyatakan AS akan menyesali serangan tersebut. Araghchi mengatakan kapal IRIS Dena membawa hampir 130 awak saat insiden itu terjadi.
