Iran Dikabarkan Sudah Pilih Pemimpin Tertinggi Pengganti Ali Khamenei

Agustiyanti
8 Maret 2026, 19:45
Bendera Iran, iran, ali khamenei, pemipin tertinggi
Katadata
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan yang bertugas memilih pemimpin tertinggi baru untuk Iran menyatakan telah mencapai keputusan, meskipun belum mengumumkan namanya. 

Israel telah memperingatkan akan menargetkan tokoh mana pun yang dipilih untuk menggantikan Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada hari pertama perang dengan Iran.

“Kandidat yang paling cocok, yang disetujui oleh mayoritas Majelis Pakar, telah ditentukan,” kata Mohsen Heydari, anggota badan seleksi, pada hari Minggu, menurut kantor berita ISNA Iran, seperti dikutip dari The Guardian. 

Anggota lainnya, Mohammad Mehdi Mirbagheri, mengkonfirmasi dalam sebuah video yang disiarkan oleh kantor berita Fars Iran bahwa pendapat tegas yang mencerminkan pandangan mayoritas telah tercapai.

Militer Israel memperingatkan akan terus mengejar setiap calon pengganti mendiang pemimpin tertinggi Iran. Dalam sebuah unggahan di X dalam bahasa Persia, militer Israel juga mengatakan akan mengejar setiap orang yang berupaya menunjuk pengganti Khamenei.

Dalam beberapa hari terakhir, Mojtaba Khamenei, 56 tahun, putra Ali Khamenei, muncul sebagai kandidat terdepan. Namun, pengangkatannya masih jauh dari pasti karena para kritikus akan melihat langkah tersebut sebagai upaya untuk memperkuat rezim yang dituduh oleh kelompok hak asasi manusia telah membunuh setidaknya 7.000 orang dalam beberapa bulan terakhir.

Selain itu, suksesi dari ayah ke anak juga tidak disukai dalam kalangan ulama Syiah Iran, khususnya di republik yang lahir dari penggulingan monarki pada 1979.

Berdasarkan konstitusi Iran, Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang bertanggung jawab untuk memilih pemimpin tertinggi negara tersebut.

Khamenei, yang memerintah Iran selama 37 tahun, tewas dalam serangan AS-Israel di Teheran pada 28 Februari.

Pertemuan ulama untuk menunjuk pemimpin baru terjadi di tengah meningkatnya pertempuran antara Israel dan Iran selama akhir pekan. Serangan Iran telah menghantam infrastruktur energi di seluruh Teluk dan serangan Israel telah menargetkan fasilitas penyimpanan minyak dan bahan bakar di dalam Iran.

Gelombang serangan Iran terbaru juga menghantam negara Teluk pada Minggu (8/3), dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait semuanya melaporkan serangan. Arab Saudi mengatakan telah mencegat 15 drone, sementara serangan di Bahrain menyebabkan "kerusakan material" pada pabrik desalinasi penting.

Serangan baru-baru ini terhadap negara-negara Teluk tampaknya juga menyoroti kemungkinan bentrokan di dalam kepemimpinan Iran. Hal ini terlihat dari pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian yang ditafisirkan ulang oleh para pejabatnya.

Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara di Semenanjung Arab dan menyatakan bahwa serangan terhadap mereka akan berakhir, asalkan wilayah udara dan pangkalan AS mereka tidak digunakan untuk melawan Iran. Menurut para analis, janji Pezeshkian untuk tidak menyerang negara-negara Teluk mengungkap keretakan publik yang jarang terjadi di dalam elit penguasa, karena para pejabatnya harus menafsirkan ulang pernyataan tersebut, yang tampaknya membuat marah faksi-faksi paling konservatif di negara itu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...