AS Mulai Ketar-ketir Selat Hormuz Ditutup Iran, Kuras Cadangan Minyak Strategis
Amerika Serikat akan memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis atau SPR untuk mengatasi kenaikan harga bensin yang signifikan di negaranya, akibat konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.
Kenaikan harga bensin di AS disebabkan oleh melonjaknya harga minyak dunia, imbas lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz yang terhenti sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Iran juga terus menghantam kapal-kapal asing yang melewati jalur utama ekspor minyak ini.
Hal itu membuat harga minyak dunia sempat naik hingga melewati US$ 100 per barel imbas perang AS dan Israel melawan Iran. Harganya sempat turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang akan segera berakhir.
Menteri Energi AS Chris Wright sempat mengunggah di media sosial pada Selasa (10/3), bahwa militer AS akan melindungi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Namun unggahan ini segera dihapus dalam 30 menit.
Gedung Putih kemudian menegaskan bahwa itu adalah berita palsu.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa unggahan yang dihapus itu merupakan upaya disinformasi yang dirancang untuk memicu kenaikan pasar minyak global, sehingga harga minyak dunia turun.
“Itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di media sosial, dikutip dari Al-Jazeera, Rabu (11/3).
“Pasar menghadapi kekurangan terbesar dalam SEJARAH: lebih besar dari Embargo Minyak Arab, Revolusi Islam Iran, dan invasi Kuwait DIGABUNGKAN.”
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Kamis (12/3) bahwa Angkatan Laut AS belum siap untuk mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. “Itu akan terjadi relatif segera, tetapi tidak bisa terjadi sekarang. Kami sama sekali belum siap,” kata dia dalam wawancara di acara “Squawk Box” CNBC Internasional.
Alasannya, seluruh aset militer AS saat ini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri manufaktur yang memasok rudal, drone, dan program nuklir.
AS akhirnya memilih untuk menguras Cadangan Minyak Strategis guna menurunkan harga bensin di negaranya. Amerika Serikat akan melepas 172 juta barel minyak, yang dimulai minggu depan.
"Sebagai bagian dari upaya ini, Presiden Trump mengizinkan Departemen Energi untuk melepaskan 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis, mulai minggu depan. Proses ini akan memakan waktu sekitar 120 hari berdasarkan laju pelepasan yang direncanakan,” kata Chris Wright dalam keterangan pers, Rabu (11/3).
Pelepasan ini merupakan bagian dari upaya besar dan terkoordinasi oleh 32 negara anggota Badan Energi Internasional atau IEA untuk menyuntikkan total 400 juta barel ke pasar global.
IEA, yang mengumumkan akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangannya, mengatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung menandai ‘gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global’.
Cadangan Minyak Negara AS, yang terletak di gua-gua bawah tanah yang luas di Texas dan Louisiana, saat ini menyimpan sekitar 415 juta barel. Dalam skala yang lebih luas, IEA melaporkan bahwa negara-negara anggotanya memiliki cadangan kolektif yang melebihi 1,2 miliar barel.
Pelepasan cadangan minyak itu bertujuan menurunkan harga minyak. Terlebih lagi pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengatakan pada Kamis (12/3) waktu setempat bahwa Selat Hormuz tetap akan ditutup. Harga minyak pun naik lagi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pun memperingatkan dunia untuk memperkirakan harga minyak akan mencapai US$ 200 per barel karena Selat Hormuz tetap tertutup. Lebih dari 20% minyak dunia melewati selat ini.
Mantan ekonom Dana Moneter Internasional atau IMF Olivier Blanchard mengatakan defisit pasokan, dikombinasikan dengan elastisitas permintaan minyak yang sangat rendah, menandakan harga minyak dunia bisa mendekati US$ 150 atau US$ 200 per barel, atau bahkan lebih tinggi, daripada level saat ini sekitar US$ 100.
“Menurut saya, sulit untuk tidak membayangkan skenario utama di mana harga minyak akan tetap sangat tinggi untuk waktu yang lama, lebih tinggi dari harga pasar saat ini," tulis Blanchard, dikutip dari Business Insider, Jumat (13/3).
Ada dua alasan utama di balik pemikiran itu. Pertama, melindungi kapal sepenuhnya di Selat Hormuz hampir mustahil, dan tidak ada alasan bagi Iran untuk berhenti mengancam kapal di Selat tersebut.
Poin kedua, memperkuat gagasan bahwa pasar tidak dapat lagi bergantung pada perdagangan TACO, karena Presiden AS Donald Trump tidak dapat begitu saja memutuskan sendiri bagaimana konflik tersebut akhirnya berakhir.
TACO, yang merupakan singkatan dari Trump always chickens out, menggambarkan gagasan bahwa presiden cenderung mengubah arah atau menarik kembali kebijakan yang mengganggu pasar, seperti ancamannya terhadap Greenland dan pembicaraan tentang tarif .
"Tidak ada alasan, terlepas dari apakah Trump menyatakan perang telah berakhir atau tidak, untuk berpikir bahwa Iran tidak akan terus mengancam untuk menghancurkan kapal-kapal yang mencoba melawan," kata Blanchard.
Hal senada disampaikan Marko Kolanovic, mantan kepala analis kuantitatif di JPMorgan. "Tidak ada solusi TACO Trump untuk Wall Street, karena harga minyak melonjak akibat perang," ujar dia. Hal itu merujuk pada pernyataan Donald Trump yang mengatakan perang akan segera berakhir, namun Iran ternyata terus membalas serangan.
