Sosok Bagher Ghalibaf, Trump Lirik Jadi Calon Pemimpin Iran

Andi M. Arief
25 Maret 2026, 13:25
 Seorang wanita berjalan di antara reruntuhan dekat Lapangan Risalat setelah serangan Israel dan AS menyebabkan kerusakan parah di Teheran timur, Iran pada 12 Maret 2026.
ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri.
Seorang wanita berjalan di antara reruntuhan dekat Lapangan Risalat setelah serangan Israel dan AS menyebabkan kerusakan parah di Teheran timur, Iran pada 12 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI
Pemerintah Amerika Serikat berencana menjadikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Kabar tersebut mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump memberikan sinyal penyelesaian konflik di Asia Barat dari pendekatan militer menjadi negosiasi.

Dilansir dari Politico, Ghalibaf dinilai sebagai mitra yang bisa diajak bekerja sama walaupun telah berulang kali mengancam Negeri Abang Sam dan sekutunya. Meski demikian, Trump menilai Ghalibaf dapat diajak bernegosiasi dalam fase perang selanjutnya.

Pada saat yang sama, pemerintahan AS tidak hanya menyiapkan Ghalibaf sebagai kandidat tunggal. "Ghalibaf adalah pilihan yang diminati, salah satu kandidat tertinggi. Namun kami harus mengujinya dan kami tidak bisa terburu-buru," kata seorang pejabat Gedung Putih kepada Politico yang dikutip Rabu (25/3).

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt enggan mengkonfirmasi informasi itu kepada media massa. Dia mengatakan negosiasi dengan Iran merupakan diskusi diplomatik yang sensitif.

Profil Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran

Dilansir dari United Against Nuclear Iran, Ghalibaf lahir di Torqabeh, Khorasan-e Razavi pada 1961. Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) saat perang Iran-Irak berlangsung pada 1980–1988.

Selama di IRGC, Ghalibaf membangun sejumlah koneksi dengan pemimpin Iran, salah satunya mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Pada 1994–1997, Ghalibaf menjadi Kepala Konstruksi Markas Pusat Khatam al-Anbia sebelum menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC pada 1997–2000. Setelah itu, ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Iran setelah demonstrasi pelajar pada 1999.

Di sisi politik, Ghalibaf tercatat mengikuti pemilihan presiden Iran pada 2005, 2013, dan 2017. Namun, ia kalah pada ketiga kesempatan tersebut sebelum masuk ke dalam Dewan Penentu Kebijakan Iran pada 2017–2020.

Pada 2020, Ghalibaf berhasil memenangkan pemilu dan menjadi Ketua Parlemen Iran. Ia kembali melanjutkan kepemimpinannya di parlemen pada Pemilu 2024.

AS Kirimkan 15 Poin kepada Iran

Amerika Serikat telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah, menurut laporan media pada Selasa (24/3).

The New York Times, mengutip dua pejabat yang diberi pengarahan tentang diplomasi tersebut, mengatakan bahwa usulan tersebut disampaikan melalui Pakistan dan menguraikan langkah-langkah untuk mengatasi program nuklir dan rudal balistik Iran serta keamanan maritim di Selat Hormuz.

Laporan tersebut mengatakan masih belum jelas apakah Iran akan menerima usulan tersebut atau apakah Israel mendukungnya, karena perang -- yang kini memasuki minggu keempat -- terus berlanjut dengan serangan AS-Israel dan pembalasan Iran.

Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, telah muncul sebagai perantara kunci antara Washington dan Teheran, dengan Islamabad memberi sinyal kesiapannya untuk menjadi tuan rumah pembicaraan jika kedua pihak setuju, menurut para pejabat yang dikutip oleh laporan tersebut.

Pada Senin (23/3), Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda lima hari untuk serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, dengan alasan pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" dengan Teheran selama dua hari terakhir.

Salah satu perhatian Trump dalam konflik di Asia Barat adalah minyak mentah. Karena itu, pertimbangan pemilihan Ghalibaf sebagai kandidat Pemimpin Tertinggi Iran didasari oleh preseden pergantian kepala negara di Venezuela.

Seperti diketahui, Trump telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal tahun ini, Sabtu (3/1). Saat ini, negara produsen minyak terbesar ketiga di Amerika Latin tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden Delcy Rodríguez yang dinilai kooperatif terhadap kebijakan Trump.

"Tujuan konflik ini adalah menempatkan seseorang seperti Delcy Rodríguez di Venezuela yang membuat kami bisa memerintahkan orang tersebut untuk memberikan Amerika Serikat kesepakatan yang bagus terkait minyak mentah," kata sumber Politico.

AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Teheran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Ketegangan juga meningkat sejak 2 Maret, ketika Israel memperluas operasi militernya di Lebanon, melancarkan serangan udara di pinggiran selatan Beirut dan daerah-daerah di selatan dan timur, sebelum memulai serangan darat terbatas di selatan pada 3 Maret.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...