Malaysia dan Thailand Bakal Pangkas Subsidi BBM Imbas Kenaikan Harga Minyak
Pemerintah Malaysia dan Thailand berencana mengurangi subsidi bahan bakar setelah harga minyak global melonjak akibat perang Iran, yang mulai membebani anggaran negara dan mendorong kenaikan harga energi domestik.
Pemerintah Thailand mulai mengurangi subsidi bahan bakar dengan menaikkan harga BBM secara tajam pada 26 Maret. Ini merupakan kenaikan terbesar dalam beberapa dekade.
Harga bensin naik sekitar 6 baht atau Rp3.000 per liter atau sekitar 14% hingga 22%, sementara harga diesel naik sekitar 18%. Kenaikan ini terjadi setelah dana subsidi bahan bakar mengalami defisit akibat kenaikan harga minyak global.
Pemerintah Thailand sebelumnya menggunakan Oil Fuel Fund untuk menstabilkan harga BBM domestik. Namun, kenaikan harga minyak global setelah perang Iran membuat beban subsidi meningkat sehingga pemerintah terpaksa mengurangi dukungan harga.
Melansir Strait Times (26/3), Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bahkan telah mencabut batas atas harga (price cap) untuk diesel pada pekan ini guna menahan tekanan fiskal yang terus meningkat.
Kenaikan harga bahan bakar diperkirakan akan berdampak luas terhadap perekonomian. Biaya transportasi dan produksi berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Malaysia Rencana Pangkas Subsidi BBM
Di Malaysia, pemerintah berencana mengurangi kuota bensin bersubsidi RON95 melalui program Budi95. Kuota subsidi yang saat ini 300 liter per bulan diperkirakan akan dipangkas menjadi 200 liter per bulan dan kemungkinan mulai berlaku pada April.
Melansir The Edge Malaysia (25/3), bensin RON95 bersubsidi dijual dengan harga RM1,99 atau setara Rp8.420 (kurs Rp4.231 per ringgit) per liter. Namun setelah kuota subsidi habis, konsumen harus membeli bensin dengan harga pasar yang diperkirakan naik menjadi sekitar RM3,87 atau Rp16.300 per liter dari sebelumnya RM3,27 atau Rp 13.800 per liter.
Harga bahan bakar non-subsidi di Malaysia memang terus naik sejak pertengahan Maret. Harga RON95 non-subsidi telah naik sekitar 44,9% sejak 11 Maret. Sementara itu, harga RON97 diperkirakan naik menjadi RM5,15 sekitar Rp 21,7 ribu per liter dan harga diesel menjadi RM5,52 sekitar Rp 23 ribu per liter, masing-masing naik lebih dari 50% dan 70% dalam periode yang sama.
Pemangkasan subsidi ini dilakukan karena beban subsidi energi pemerintah berpotensi melonjak. Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebelumnya memperingatkan biaya subsidi bahan bakar bisa mencapai RM 24 miliar tahun ini jika harga minyak dunia bertahan di atas US$110 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah perang Iran mengganggu pasokan energi global. Harga minyak Brent sempat mendekati US$120 per barel dan masih berada jauh di atas level sebelum perang.
