Menlu Iran: AS dan Israel Hancurkan 1.000 Sekolah, Jelas Berniat Genosida

Andi M. Arief
27 Maret 2026, 18:12
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
ANTARA/Anadolu-Elif Öztürk/pri.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Amerika Serikat dan Israel telah melakukan genosida. Kedua negara pemilik senjata nuklir tersebut telah menghancurkan 1.000 sekolah di Iran.

Araghchi menyampaikan perang di Asia Barat telah membunuh dan melukai 1.000 siswa dan guru di Tanah Persia selama 27 hari terakhir. Karena itu, Araghchi mendorong seluruh negara untuk mengecam kejadian tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral.

"Amerika Serikat dan Israel sedang berusaha menormalisasi pelanggaran HAM dan hukum manusia dengan keji. Selain itu, mereka menunjukkan keberanian untuk melakukan kejahatan berat tanpa hukuman," kata Araghchi dalam Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Jumat (27/3).

Selain sekolah, Araghchi mengatakan Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan infrastruktur vital Iran secara presisi. Beberapa infrastruktur yang dimaksud adalah rumah sakit, ambulans, tenaga kesehatan, kilang minyak, sumber daya air, dan kawasan permukiman.

Araghchi meyakini Amerika Serikat secara jelas melakukan kejahatan genosida. Sebab, Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth secara eksplisit mengatakan tidak akan memberikan belas kasihan dan pengecualian dalam perang dengan Iran.

"Kekejaman ini tidak dapat dibenarkan, tidak dapat disembunyikan, dan tidak boleh dihadapi dengan diam maupun sikap acuh tak acuh," katanya.

Seperti diketahui, Kementerian Luar Negeri belum memberikan kecaman terhadap serangan yang dilakukan Iran, Israel, maupun Amerika Serikat di Asia Barat. Namun pemerintah telah menyerukan agar semua pihak menghentikan serangan di kawasan.

Secara rinci, Kemenlu meminta Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan kepada Iran. Pada saat yang sama, pemerintah mendorong Iran menghentikan serangan ke negara-negara tetangganya, seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Oman, Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Adapun, Presiden Dewan Hak Asasi Manusia saat ini dijabat oleh Duta Besar Sidharto Reza Suryodipuro dari Indonesia. Kementerian Luar Negeri masih belum memberikan keterangan terhadap posisi Indonesia dalam Dewan HAM PBB pasca pemberian keterangan oleh Araghchi hari ini, Jumat (27/3).

Sejak dimulainya operasi pada 28 Februari, lebih dari 1.000 target dihantam hanya dalam 24 jam pertama, sebagaimana dikutip dari Bloomberg. Kepala Centcom Laksamana Brad Cooper mengatakan skala operasi ini hampir dua kali lipat dibandingkan operasi “shock and awe” yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Irak pada 2003.

Jika pada perang-perang sebelumnya keputusan militer sepenuhnya berada di tangan manusia, kini algoritma semakin terlibat dalam proses yang dapat menentukan hidup dan mati di medan perang.

Dalam perang di Iran, teknologi AI digunakan untuk membantu proses penyaringan awal data intelijen yang masuk. “Ini memungkinkan petugas manusia berfokus pada analisis dan verifikasi tingkat yang lebih tinggi,” kata juru bicara Centcom Kapten Timothy Hawkins dikutip dari Bloomberg, Kamis (5/3).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...