Iran dan AS akan Lanjutkan Negosiasi Damai Ronde Kedua
Iran dan Amerika Serikat sedang menggodok jadwal untuk perundingan damai ronde kedua. Ini setelah Negeri Abang Sam mulai memblokade kapal berbendera Iran yang keluar dari Selat Hormuz sejak Senin (13/4).
Dikutip dari Bloomberg, perundingan damai ronde kedua akan dilakukan sebelum masa gencatan senjata usai Selasa (21/4). Sumber Bloomberg mengatakan, kedua pihak sedang mempertimbangkan melakukan diskusi tersebut di tempat lain.
"Salah satu ide adalah kembali ke Pakistan yang menjadi lokasi negosiasi damai awal dilakukan akhir pekan lalu," kata sumber yang tidak disebutkan namanya ke Bloomberg yang dikutip Rabu (15/4).
New York Post melaporkan negosiasi damai ronde kedua dapat terjadi Rabu (15/4), atau Kamis (16/4), di Pakistan. Namun Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump mengatakan ronde kedua perundingan damai dengan Iran kemungkinan dilakukan di Eropa.
Walau demikian, Trump mengubah pernyataannya dan mengatakan negosiasi ronde kedua akan terjadi di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, tempo negosiasi pada perundingan pertama sedikit lambat.
"Kenapa? Karena Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan melakukan pekerjaan yang sangat baik," kata Trump kepada New York Post.
Ada dua aktor mediator dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan negaranya, yakni Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Trump mengatakan, dirinta tidak akan mengubah lokasi perundingan damai ke negara yang tidak memiliki andil langsung. Alasan lain adalah Asim Munir telah berkontribusi langsung dalam mengakhiri perang dengan India yang menyelamatkan 30 juta jiwa.
Trump belum mengumumkan siapa perwakilan negaranya dalam perundingan ronde kedua tersebut. Namun Kepala Negara AS tidak akan terlibat langsung dalam negosiasi tersebut.
Menurutnya, salah satu aspek yang menggagalkan negosiasi damai akhir pekan lalu adalah penanganan bahan baku nuklir di Iran. Dia kecewa dengan usulan penundaan program pengayaan uranium selama 20 tahun.
"Saya telah mengatakan mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saya tidak mau mereka merasa mendapatkan kemenangan," katanya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan negosiasi damai pertama berujung buntu setelah perwakilan Iran menolak ambisi program nuklir. Vance merupakan salah satu dari tiga perwakilan AS dalam negosiasi tersebut selain Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff dan penasehat Trump, Jared Kushner.
Permintaan lain dari AS adalah agar Iran menghentikan dukungan ke kelompok bersenjata. Menurutnya, hal tersebut penting bagi kesejahteraan masyarakat di Iran.
"Masyarakat Iran dapat berkembang, makmur, dan bergabung dalam perekonomian dunia," kata Vance.
Perundingan Lebanon-Israel
Di kesempatan berbeda, Lebanon dan Israel telah melakukan perundingan damai pertama yang berlangsung lebih dari 2 jam di Washington DC, Amerika Serikat. Perwakilan kedua negara membawa proposal berbeda dalam negosiasi tersebut.
Dikutip dari Reuters, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan Lebanon dan Israel telah menyepakati negosiasi langsung. Perundingan tersebut dilakukan di waktu dan tempat yang telah disepakati.
"Pertemuan kedua pihak menghasilkan diskusi yang produktif menuju negosiasi langsung," seperti dalam keterangan resmi Kemenlu AS yang dikutip Rabu (15/4).
Interaksi formal antara Lebanon dan Israel terakhir kali terjadi pada 1993. Secara teknis, kedua negara tersebut telah berperang sejak pertama kali Israel berdiri pada 1948.
Duta Besar Lebanon untuk Amerika Serikat Nada Moawad mengatakan perundingan damai pertama tersebut sebagai pertemuan yang konstruktif. Adapun tujuan utama Moawad dalam negosiasi tersebut adalah gencatan senjata oleh pihak Israel.
Seperti diketahui, kelompok bersenjata Hezbollah mulai menyerang Israel pada bulan lalu, Senin (2/3). Hal tersebut dilakukan setelah Amerika Serikat dan Iran menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Adapun Iran telah mensyaratkan gencatan senjata oleh Israel dan Amerika Serikat ke seluruh pihak sebagai syarat perundingan damai perang di Asia Barat. Namun Israel menyerang 100 target dalam 10 menit di Ibu kota Lebanon, Beirut beberapa jam setelah Iran menyampaikan syarat tersebut.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter menolak menjawab apakah Israel ingin melakukan gencatan senjata terhadap Lebanon. Sebab, Leiter mengatakan tujuan utama negaranya adalah menghentikan kekuasaan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon.
"Pemerintah Lebanon telah memberikan pernyataan jelas bahwa mereka tidak akan dikuasai Hezbollah lagi, dan ini merupakan peluang," kata Leiter.

