Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz usai Trump Perpanjang Gencatan Senjata

Ameidyo Daud Nasution
23 April 2026, 06:38
iran, selat hormuz, amerika serikat, kapal
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada hari Rabu (22/4). Langkah ini diambil usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengatakan bahwa Garda Revolusi (IRGC) telah menyita dua kapal karena pelanggaran maritim dan mengawalnya ke pantai Iran. Ini adalah pertama kalinya Iran menyita kapal sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Garda Revolusi juga memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat tersebut akan dianggap sebagai garis merah.

Penyitaan ini dilakukan Iran di tengah blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan gencatan senjata penuh hanya masuk akal jika blokade tersebut dicabut.

"Anda tidak mencapai tujuan Anda melalui agresi militer dan Anda juga tidak akan mencapainya dengan intimidasi," kata Qalibaf dalam akun X seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (23/4).

Dua kapal yang disita adalah Epaminondas yang berbendera Liberia serta MSC Francesca yang berbendera Panama. IRGC menuduh dua kapal tersebut beroperasi tanpa izin.

Technomar Shipping Yunani, yang mengoperasikan Epaminondas, mengonfirmasikan bahwa kapal tersebut telah ditangkap. Epaminondas ditembak sekitar 20 mil laut barat laut Oman dan mengalami kerusakan pada anjungan kapal, meskipun kru mereka tidak ada yang terluka.

Iran juga sempat menembaki sebuah kapal kontainer lain berbendera Liberia. Namun, kapal tersebut tak mengalami kerusakan dan telah melanjutkan pelayaran.

Sedangkan Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan penyitaan yang dilakukan Iran bukan pelanggaran gencatan senjata, namun pembajakan. Alasannya kapal yang diserang dan disita bukan berasal dari AS serta Israel.

Dalam situasi normal, Selat Hormuz bisa dilewati sekitar 130 kapal. Meski demikian, angka tersebut menurun drastis sejak Perang Iran-AS. Militer AS mengatakan telah memerintahkan 29 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari blokade AS terhadap Iran.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...