10 Ilmuwan Nuklir AS Hilang dan Mati, Parlemen hingga FBI Mulai Investigasi
Parlemen Amerika Serikat mulai menyelidiki hilangnya belasan ilmuwan nuklir Negeri Abang Sam sejak 2023. Mayoritas peneliti tercatat memiliki hubungan dengan Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional atau NASA, Laboratorium Nasional Los Alamos, dan Institut Teknologi Massachusetts atau MIT.
Ketua Komite Pengawasan dan Reformasi Pemerintah DPR AS James Comer telah memanggil Kementerian Energi, Kementerian Perang, Biro Investigasi Federal atau FBI, dan NASA terkait laporan tersebut. Menurutnya, setidaknya 10 ilmuwan yang hilang memiliki koneksi pada informasi terbatas terkait nuklir dan teknologi roket.
"Mereka meninggal atau hilang secara misterius dalam beberapa tahun terakhir. Kalau laporan ini akurat, kematian dan laporan orang hilang ini berpotensi merepresentasikan ancaman besar bagi keamanan nasional AS," kata Comer dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (24/4).
Comer mendata setidaknya ada empat ilmuwan NASA yang tergabung dalam Laboratorium Propulsi Jet dilaporkan hilang atau meninggal. Ilmuwan yang pertama kali dilaporkan meninggal adalah Michael David Hicks pada 2023 dan diikuti oleh hilangnya Direktur Laboratorium Grup Pengolahan Material NASA Moniza Reza pada Juni 2025.
Kasus orang hilang terbaru adalah purnawirawan Jenderal Angkatan Udara William Neil McCasland pada Februari 2026. McCasland hilang dari rumahnya bersama pistol kaliber 38 sampai saat ini.
Secara umum, berikut pekerjaan para ilmuwan yang hilang atau mati:
- Tiga ilmuwan dari Lab Propulsi Jet NASA
- Satu ilmuwan dari Lab Grup Pengolahan Material NASA
- Satu purnawirawan Jenderal Angkatan Udara
- Dua ilmuwan dari Laboratorium Nasional Los Alamos
- Satu ilmuwan fusi nuklir dari MIT
- Satu peneliti farmasi
- Satu kontraktor pemerintah yang bekerja di fasilitas produksi komponen senjata nuklir.
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump berharap laporan orang hilang dan kematian ini hanya kebetulan. Trump mengaku telah mengadakan pertemuan yang membahas laporan orang hilang dan kematian terkait belasan ilmuwan nuklir tersebut belum lama ini.
"Saya berharap kejadian ini adalah insiden acak, tapi kami mengetahui lebih lanjut pada satu setengah pekan ke depan," katanya.
Direktur FBI Kash Patel mengatakan akan melakukan segala upaya dalam menangani kasus tersebut dalam wawancara kepada Fox News akhir pekan lalu, Minggu (19/4). Patel mengaku langkah pertama dalam investigasi tersebut adalah mencari benang merah terhadap semua laporan tersebut.
Adapun Patel mencatat beberapa sisi yang akan menjadi fokus investigasi adalah hubungan para ilmuwan yang hilang atau meninggal dengan akses terbatas, informasi rahasia, dan aktor asing.
"Jika ada koneksi yang mengarah pada konspirasi atau kegiatan kriminal, FBI akan melakukan penahanan yang sesuai," katanya.
