Kemenlu Sebut Kapal Tanker Iran Punya Hak Lintas Melewati Perairan Indonesia
Kementerian Luar Negeri atau Kemenlu telah memeriksa kualifikasi kapal tanker super asal Iran yang melintasi perairan Indonesia.
Secara rinci, kapal tanker super bernama HUGE tersebut milik Perusahaan Tanker Nasional Iran atau NITC dan melewati perairan nasional akhir pekan lalu, Minggu (3/5). Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah telah mencatat laporan mengenai keberadaan kapal-kapal asing di perairan Indonesia.
"Pemerintah Indonesia memandang bahwa kapal-kapal tersebut melaksanakan hak lintasnya sesuai hukum internasional. Kami akan terus memantau situasi ini dan berkomunikasi melalui saluran diplomatik yang tepat," kata Yvonne dalam keterangan resmi, Selasa (5/5).
Yvonne menyampaikan pemerintah tunduk pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau UNCLOS yang dibentuk pada 1982. Karena itu, Indonesia menghormati semua rezim lintas di masing-masing zona maritim.
Berdasarkan laporan TankerTrackers, kapal milik NITC yang melintasi perairan Indonesia membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah dengan nilai US$ 220 juta atau setara Rp 3,8 triliun. Kapal itu terakhir kali terdeteksi di lepas pantai Sri Lanka pekan lalu.
Pada akhir pekan lalu, HUGE tercatat sedang melintasi Selat Lombok dan menuju Kepulauan Riau. VesselFinder mencatat HUGE berangkat dari Uni Emirat Arab dan dijadwalkan tiba di pelabuhan tujuan besok, Rabu (6/5).
HUGE terakhir kali mengirimkan sinyal di Automatic Identification System (AIS) pada akhir pekan lalu, Minggu (3/5) dan pada 20 Maret 2026. "Ketika ia meninggalkan Selat Malaka menuju Iran," demikian laporan TankerTracker.
Seorang pejabat militer senior Iran menyatakan bahwa perang baru dengan AS kemungkinan besar bisa terjadi. Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya dengan proposal negosiasi terbaru dari Teheran.
Menurut laporan media Pemerintah Iran, draf proposal tersebut telah diserahkan kepada Pakistan selaku mediator pada Kamis (30/4) malam. Akan tetapi, perincian isi dokumen itu tidak diungkapkan ke publik.
"Pada saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," kata Trump kepada wartawan, akhir pekan ini.
