Militer AS Terus Beroperasi di Selat Hormuz Meski Bilang Epic Fury Berakhir

Muhamad Fajar Riyandanu
6 Mei 2026, 15:50
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz.
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan operasi militer Operation Epic Fury terhadap Iran telah berakhir karena telah mencapai tujuan, meskipun belum dapat mengamankan uranium yang telah diperkaya milik Teheran.

Washington juga mengatakan bahwa misi menjaga kelancaran distribusi minyak di Selat Hormuz bukan kelanjutan dari Operation Epic Fury. Upaya itu dijalankan sebagai operasi terpisah yang lebih terbatas skalanya dan bersifat defensif.

Meski begitu, laporan media internasional menunjukkan bahwa berakhirnya operasi tersebut tidak serta-merta membuat militer AS menarik diri dari kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut operasi yang dimulai pada akhir Februari 2026 itu telah memenuhi target strategis Washington. Pernyataan tersebut juga berkaitan dengan batas waktu kewenangan perang atau War Powers Act yang membatasi operasi militer tanpa persetujuan Kongres.

“Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut. Kami tidak menginginkan situasi tambahan terjadi. Kami lebih memilih jalur damai. Apa yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan,” kata Rubio, sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Rabu (6/5).

Meski Rubio menyatakan bahwa Operasi Epic Fury telah mencapai tujuannya, salah satu target utama Trump adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran hingga kini belum menyerahkan lebih dari 900 pon (408 kilogram) uranium yang telah diperkaya tinggi.

Pernyataan Rubio tampaknya bertujuan untuk meredam kritik anggota Kongres terhadap Presiden Donald Trump. Para legislator menilai Trump melanggar War Powers Resolution yang memberi presiden batas waktu 60 hari untuk menjalankan operasi militer.

Perang Iran bermula ketika Israel dan US melancarkan serangan udara pada 28 Februari. Trump kemudian melaporkan konflik itu kepada Kongres 48 jam setelahnya. Laporan tersebut memicu tenggat 60 hari—yang berakhir Jumat lalu—bagi pemerintah untuk menghentikan operasi militer atau mengajukan perpanjangan kepada Kongres.

AS Masih Lanjutkan Operasi Militer

Meski telah mencapai tujuan di Operation Epic Fury, AS tidak menghentikan seluruh aktivitas militernya. Pemerintah AS langsung mengalihkan fokus ke misi baru bertajuk Project Freedom yang diklaim bersifat defensif, terutama untuk mengamankan jalur pelayaran global di Selat Hormuz.

Rubio menjelaskan, operasi di Selat Hormuz itu bertujuan untuk mengatasi krisis kemanusiaan. Menurutnya hingga saat ini ada sekitar 23 ribu orang dari 87 negara masih terjebak di kapal-kapal di kawasan Teluk.

Lebih dari itu, konflik yang belum sepenuhnya mereda telah menelan korban jiwa. Sedikitnya 10 pelaut sipil dilaporkan tewas di tengah ketegangan yang terus berlangsung di jalur vital perdagangan energi dunia tersebut.

Rubio mengatakan, operasi lanjutan di Selat Hormuz ini memiliki skala lebih terbatas. Misi Project Freedom ini difokuskan pada pengamanan jalur pelayaran, bukan pertempuran terbuka. “Kami tidak akan bertindak secara militer kecuali diserang,” kata Rubio.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...