AS dan Iran Kembali Saling Serang, Konflik Selat Hormuz Memanas

Tia Dwitiani Komalasari
8 Mei 2026, 07:31
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal terhadap pasukan AS untuk membalas serangan negeri Paman Sam tersebut terhadap sebuah kapal tanker, kata laporan televisi nasional Iran pada Kamis(7/5), dengan mengutip sumber militer.

Adapun pada Rabu (6/5), Komando Pusat AS mengatakan pasukannya telah melumpuhkan sebuah kapal tanker yang mengibarkan bendera Iran di sekitar Teluk Oman.

Namun, laporan Iran tidak menerangkan apakah kedua insiden tersebut berhubungan.

Setelah menghadapi tembakan pasukan Iran di Selat Hormuz dan mengalami kerusakan, kapal-kapal AS tersebut mundur, kata laporan tersebut meski tanpa merinci kapan terjadinya.

Sementara itu, suara ledakan dilaporkan terdengar di barat Teheran, dengan kantor berita Mehr mengkonfirmasi sistem pertahanan udara beroperasi di ibu kota Iran itu.

AS juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Kota Bandar Abbas, menurut laporan Fox News, mengutip pejabat senior militer AS.

Namun, AS memandang serangan yang mereka lakukan tersebut tidak bermaksud untuk memulai kembali perang.

AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, sehingga mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa di kalangan rakyat sipil.

Pada 7 April, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata. Namun, perundingan di Islamabad yang berlangsung setelahnya belum berhasil mencapai kesepakatan apapun.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu lebih kepada Iran mempersiapkan "proposal gabungan".

Eskalasi tersebut menyebabkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti total. Selat tersebut merupakan rute kunci bagi lalu lintas pasokan minyak dan LNG dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Akibat disrupsi tersebut, harga minyak mengalami kenaikan di banyak tempat.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...