Sepak Bola Iran Minta Jaminan di Piala Dunia: Tuan Rumah Kami FIFA, bukan Trump
Iran memastikan tetap akan berpartisipasi dalam ajang Piala Dunia 2026 meski situasi geopolitik masih memanas. Namun, negara tersebut meminta adanya jaminan dari pihak tuan rumah. Adapun Piala Dunia FIFA 2026 akan berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Mengutip Al Jazeera, Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj menyebut pihaknya akan meminta jaminan kepada FIFA agar Amerika Serikat tidak menghina Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama turnamen berlangsung.
Ia menegaskan persiapan Iran menuju Piala Dunia tetap berjalan sesuai rencana. Kendati demikian, keikutsertaan Iran tergantung adanya jaminan penghormatan terhadap institusi militer Iran dari AS sebagai salah satu tuan rumah turnamen.
“Apabila Amerika menjamin tidak akan menghina lembaga militer kami dan IRGC, kami akan ikut,” kata Taj kepada stasiun penyiaran negara IRIB, dikutip Al Jazeera, Senin (11/6).
Taj merujuk pada insiden pekan lalu saat delegasi Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) memutuskan kembali pulang setelah tiba di bandara utama Toronto, Kanada. Akibat kejadian itu, delegasi Iran absen dalam pertemuan pra-Piala Dunia FIFA di Vancouver.
Delegasi yang turut dipimpin Taj itu disebut memilih kembali ke Turkiye meski telah mengantongi visa yang sah. Keputusan itu usai Iran mengaku mendapat perlakuan yang tidak pantas dari petugas imigrasi Kanada setibanya di Bandara Pearson Toronto. Tak hanya itu, FFIRI menyebut adanya penghinaan terhadap salah satu institusi militer paling dihormati di Iran.
“Jika mereka memberikan jaminan bahwa insiden seperti di Kanada tidak terjadi dan mereka benar-benar menjaminnya, kami akan pergi,” ucap Taj.
Pada 2024, Kanada memasukkan IRGC Iran ke dalam daftar organisasi teroris. Lalu pernyataan dari pemerintah Kanada sempat menyebut bahwa Taj ditolak masuk karena dugaan hubungannya dengan IRGC.
“Pejabat IRGC tidak diperbolehkan masuk ke Kanada dan tidak memiliki tempat di negara kami,” kata pemerintah Kanada.
Iran: Tuan Rumah Kami adalah FIFA, bukan Trump
Taj mengatakan dirinya dijadwalkan bertemu Presiden Gianni Infantino serta Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom di markas FIFA di Zurich pada bulan ini.
Dalam pertemuan tersebut, Taj mengaku akan meminta jaminan agar tim nasional Iran beserta para pejabat pendamping tidak mengalami pembatasan masuk maupun perlakuan yang dianggap tidak menghormati institusi negara Iran.
“Kami membutuhkan jaminan untuk perjalanan kami, mereka tidak berhak menghina simbol-simbol negara kami, terutama Korps Garda Revolusi Islam,” ujar Taj.
Taj menegaskan persoalan itu harus menjadi perhatian serius pihak terkait. Menurutnya, apabila ada jaminan yang jelas dan tanggung jawab yang tegas, maka insiden seperti yang dialami delegasi Iran di Kanada tidak akan kembali terjadi.
Di sisi lain, tim nasional Iran disebut tetap menjalani persiapan intensif menuju Piala Dunia 2026. Otoritas sepak bola Iran telah menyiapkan agenda pemusatan latihan di dalam negeri hingga Turkiye sebelum bertolak ke Amerika Serikat.
Skuad Iran dijadwalkan berangkat ke Turkiye pada Senin (11/5) untuk menjalani tahap akhir persiapan sebelum menuju AS pada Juni mendatang.
Tim Melli nantinya akan membuka perjalanan mereka di fase grup dengan menghadapi Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni. Setelah itu, Iran akan melawan Belgia pada 21 Juni di stadion yang sama, sebelum menghadapi Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Taj juga menegaskan Iran berhak tampil di Piala Dunia 2026 setelah menjadi salah satu negara pertama yang memastikan tiket ke turnamen tersebut.
“Kami pergi ke Piala Dunia karena kami lolos, tuan rumah kami adalah FIFA, bukan Tuan Trump atau Amerika,” ungkap Taj.
Adapun AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Kementerian Kesehatan Iran, sebanyak 3.468 orang dilaporkan tewas akibat serangan gabungan AS-Israel tersebut. Selain itu, lebih dari 26.500 orang mengalami luka-luka, termasuk sekitar 4.000 perempuan dan 1.621 anak-anak.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Timur Tengah yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS dan juga menyerang Israel.

