Menlu Sugiono Kritik Standar Ganda Dunia soal Gaza dalam Forum DK PBB

Muhammad Almer Sidqi
28 Mei 2026, 07:29
Sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla tiba di tanah air
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.
Menteri Luar Negeri Sugiono (tengah) menyambut kedatangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusian Global Sumud Flotilla setibanya dari Istambul, Turkiye di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026). Sembilan WNI yang terdiri dari jurnalis dan relawan sebelumnya sempat ditahan tentara Zionis Israel saat menjalankan misi kemanusiaan mengantarkan bantuan untuk Gaza, Palestina.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengkritik penerapan hukum internasional yang dinilai masih sarat standar ganda, terutama dalam penanganan konflik Palestina di Gaza. Kritik itu disampaikan Sugiono dalam Debat Terbuka Tingkat Tinggi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York, Selasa (26/5).

Menurut Sugiono, situasi di Gaza mencerminkan kegagalan komunitas internasional dalam menegakkan prinsip multilateralisme dan hukum internasional secara adil dan konsisten. Ia menilai tantangan global saat ini bukan disebabkan Piagam PBB kehilangan relevansi, tetapi karena implementasinya yang kerap diterapkan secara selektif..

“Situasi di Palestina, khususnya di Gaza, menjadi cerminan nyata kegagalan komunitas internasional dalam menegakkan prinsip-prinsip tersebut secara adil dan konsisten,” kata Sugiono. 

Indonesia, kata Sugiono, menegaskan dukungan terhadap Solusi Dua Negara yang berlandaskan hukum internasional dan resolusi PBB sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina.

Sugiono juga mengecam meningkatnya serangan terhadap pasukan perdamaian PBB. Menurut dia, serangan tersebut merupakan ancaman terhadap prinsip multilateralisme dan menunjukkan urgensi perlindungan terhadap personel penjaga perdamaian internasional.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS, guna memastikan jalur pelayaran strategis dunia tidak berubah menjadi arena konflik.

Dalam forum tersebut, Indonesia kembali mendorong reformasi Dewan Keamanan PBB agar lebih representatif, transparan, dan akuntabel, sekaligus mencerminkan kepentingan negara-negara berkembang.

“Dunia tidak memerlukan hierarki baru, melainkan pembaruan komitmen untuk kembali pada prinsip-prinsip Piagam PBB dan memperkuat multilateralisme yang melayani seluruh negara secara setara,” ujar Sugiono.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...