Deret Fakta Trionda, Bola Piala Dunia yang Dibekali Sensor Cip untuk Bantu VAR

Muhamad Fajar Riyandanu
8 Juni 2026, 07:36
Trionda, piala dunia 2026,
ANTARA/FIFA
Trionda
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Piala Dunia 2026 akan menandai debut Trionda sebagai bola resmi pertandingan. Di balik tampilannya yang mencolok, Trionda menyimpan beragam fakta menarik mulai dari filosofi nama, teknologi sensor pintar, hingga proses pengembangannya yang melibatkan simulasi aerodinamika layaknya industri kedirgantaraan.

Penamaan ‘Trionda’ secara linguistik berasal dari gabungan awalan ‘tri-‘ yang berarti tiga dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Spanyol untuk merepresentasikan tiga negara tuan rumah. Sementara kata ‘onda’ punya berarti gelombang dalam bahasa Spanyol dan Portugis.

Soccer.com menuliskan gabungan kata itu menghasilkan konsep Triple Wave atau ‘Tiga Gelombang’ sebagai representasi dari tiga negara yang dibingkai oleh tiga garis pantai besar di benua Amerika Utara.

Estetika visual bola ini juga memuat simbol kebangsaan dari masing-masing negara tuan rumah. FIFA menjelaskan panel berwarna merah dihiasi motif daun maple khas Kanada yang melambangkan kedekatan negara tersebut dengan alam serta mencerminkan perkembangan sepak bola yang terus tumbuh di sana.

Panel berwarna hijau menampilkan sosok elang emas yang diambil dari lambang negara Meksiko. Simbol ini merepresentasikan kekuatan, kebanggaan nasional, serta warisan panjang sepak bola yang telah mengakar di negara itu.

Sementara itu, panel berwarna biru dihiasi bintang bersudut lima yang menjadi salah satu simbol khas Amerika Serikat (AS). Elemen ini juga mencerminkan peran dominan negara tersebut sebagai tuan rumah dengan menyediakan 11 dari total 16 kota penyelenggara Piala Dunia 2026.

Rekayasa Aerodinamika

Dari sisi konstruksi, Adidas Trionda mencatat diri sebagai bola piala dunia dengan jumlah panel paling sedikit yang pernah digunakan. Bola ini hanya terdiri dari empat panel poliuretan melengkung yang direkatkan menggunakan teknologi thermal bonding.

Adidas mengurangi jumlah panel untuk meminimalkan area sambungan jahitan pada permukaan bola. Desain itu disebut-sebut membuat bentuk bola lebih mendekati bulat sempurna, menghasilkan sentuhan yang lebih konsisten, serta mengurangi penyerapan air saat pertandingan berlangsung dalam kondisi hujan atau cuaca lembap.

Kendati demikian, penggunaan panel yang lebih sedikit juga memunculkan kekhawatiran terkait stabilitas lintasan bola. Dalam kondisi tertentu, bola berpotensi mengalami pergerakan yang sulit diprediksi atau knuckling effect saat melayang tanpa putaran pada kecepatan tinggi. Hal iini serupa dengan karakteristik yang pernah menuai kontroversi pada bola Jabulani di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

The Indian Express menuliskan bahwa Adidas telah merancang permukaan Trionda secara khusus untuk mengatasi tantangan aerodinamika yang muncul. Setiap panel dilengkapi tiga alur dalam (deep grooves) serta ribuan mikrotekstur timbul yang terinspirasi dari simbol tiga negara tuan rumah, yakni AS, Kanada, dan Meksiko.

Desain tersebut mengadopsi prinsip yang digunakan pada bola golf. Permukaan yang sengaja dibuat lebih kasar membantu menciptakan lapisan turbulensi udara di sekitar bola sehingga hambatan aerodinamis (drag) dapat terdistribusi lebih merata, dan lintasan bola menjadi lebih stabil saat melayang di udara.

Dengan pendekatan ini, Adidas berupaya mengurangi risiko pergerakan bola yang sulit diprediksi seperti yang pernah terjadi pada Jabulani. Seluruh varian Trionda diproduksi oleh Forward Sports, perusahaan manufaktur perlengkapan olahraga yang berbasis di Sialkot, Provinsi Punjab, Pakistan. Perusahaan ini dipercaya Adidas untuk menangani proses produksi bola resmi Piala Dunia 2026.

Sensor Bola dan Integrasi Sistem VAR

Trionda dibekali versi terbaru Connected Ball Technology yang dikembangkan melalui kolaborasi antara Adidas, FIFA, dan perusahaan teknologi sensor asal Munich, Jerman, yakni Kinexon. Teknologi ini memungkinkan bola mengirimkan data secara langsung (real time) untuk mendukung pengambilan keputusan wasit selama pertandingan.

Di dalam bola tertanam sensor gerak berbasis Inertial Measurement Unit (IMU) yang mampu merekam berbagai parameter pergerakan. Sensor tersebut dirancang untuk melacak dampak kontak atau benturan, rotasi, hingga kecepatan putaran bola dengan tingkat presisi yang tinggi. Trionda adalah bola Piala Dunia kedua yang menggunakan teknologi chip setelah Al Rihla di Qatar 2022 silam.

Agar sistem elektronik di dalamnya dapat berfungsi optimal, Trionda harus diisi daya sebelum digunakan layaknya perangkat digital modern. Melalui stasiun pengisian daya khusus, baterai bola dapat terisi penuh dalam waktu sekitar 90 menit dan mampu menopang operasional sensor hingga enam jam penggunaan di lapangan.

Selama pertandingan berlangsung, sensor yang tertanam di dalam bola akan mengirimkan data secara terus-menerus ke sistem penerima yang dipasang di sekitar stadion. Sinyal tersebut dipancarkan dengan frekuensi hingga 500 kali per detik menuju antena pelacak sehingga pergerakan bola dapat dipantau dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Pemimpin Pengembangan Inovasi Sepak Bola Adidas, Hannes Schaefke, mengatakan data yang dikirim sensor di dalam Trionda dapat membantu wasit menentukan momen pasti saat bola dimainkan.

Kemampuan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan akurasi pengambilan keputusan dalam situasi offside. Hal ini karena sistem dapat mengidentifikasi waktu umpan dilepaskan dengan jauh lebih presisi dibandingkan pengamatan visual semata.

Schaefke menjelaskan sensor di dalam bola mampu merespons setiap kontak yang terjadi secara seketika. Karena itu, teknologi tersebut juga dapat membantu mendeteksi sentuhan tangan (handball) maupun kontak lain yang kerap menjadi perdebatan selama pertandingan.

“Bola bereaksi terhadap apa pun, dan akselerometer (sensor pendeteksi gerakan) akan memberi Anda sinyal segera,” kata Hannes Schaefke, sebagaimana diberitakan oleh Gulf News pada 3 Februari lalu.

Data posisi bola yang dikumpulkan sensor kemudian dipadukan dengan sistem kamera pelacak gerak pemain, kecerdasan buatan (AI), serta model tiga dimensi digital dari setiap pemain di lapangan. Integrasi teknologi tersebut memungkinkan sistem VAR menentukan momen tepat saat bola ditendang dengan akurasi hingga hitungan milidetik.

Kemampuan ini membantu mempercepat proses pengambilan keputusan offside semi-otomatis atau semi-automated offside technology sekaligus meningkatkan ketepatan dalam mendeteksi sentuhan tangan, defleksi, maupun kontak kecil lainnya yang sulit terlihat melalui tayangan ulang biasa.

“Permainan modern memiliki beberapa implikasi dan VAR merupakan salah satu teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung permainan saat ini,” ujar Hannes Schaefke.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...