AS dan Iran Kembali Saling Serang, Gencatan Senjata di Selat Hormuz Terancam

Ahmad Islamy
27 Juni 2026, 09:32
Selat Hormuz
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang pada Sabtu (2/6). Peristiwa itu meningkatkan ketegangan di kawasan dan mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh serta perundingan terkait keamanan di Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah posisi militer AS di kawasan tersebut sebagai respons atas serangan terbaru Washington terhadap wilayah Iran. Sebelumnya, kantor berita semiresmi Iran, ISNA, sempat memuat pernyataan IRGC yang menyebut bahwa respons terhadap serangan baru AS terhadap Iran akan dilakukan secara cepat dan tegas, sebelum laporan tersebut kemudian dihapus.

Namun, IRGC tidak menjelaskan secara terperinci lokasi maupun jenis fasilitas militer AS yang menjadi sasaran serangan.

Aksi balasan Teheran itu terjadi setelah militer AS mengumumkan bahwa mereka telah menyerang sejumlah fasilitas Iran pada Jumat (26/6), termasuk lokasi penyimpanan rudal dan drone serta instalasi radar di wilayah pesisir.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan drone Iran sehari sebelumnya terhadap kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, ketika kapal itu sedang meninggalkan Selat Hormuz melalui koridor pelayaran sementara yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Serangan tanpa alasan terhadap kapal komersial oleh pasukan Iran merupakan pelanggaran jelas terhadap gencatan senjata,” kata Centcom dalam pernyataannya. Militer AS juga menilai tindakan Iran telah mengancam kebebasan navigasi, terutama ketika semakin banyak aktivitas perdagangan global bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut.

Media Pemerintah Iran melaporkan, sebuah proyektil menghantam area sekitar dermaga di Sirik, wilayah Iran Selatan, setelah serangan yang dilakukan AS.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengecam serangan terhadap kapal Ever Lovely dan menyebut satu drone Iran berhasil menghantam bagian atas kapal, sementara tiga drone lainnya berhasil dicegat.

“Ini jelas merupakan pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata kita,” tulis Trump melalui platform Truth Social.

Sesaat sebelum serangan balasan AS dilancarkan, Trump mengatakan di Gedung Putih bahwa dirinya tidak menyukai tindakan Iran yang disebutnya telah melakukan serangan sebanyak empat kali dalam satu hari. Namun, ketika ditanya mengapa Washington tetap mengambil tindakan militer meskipun perundingan dengan Teheran masih berlangsung, Trump berdalih Iran merupakan kasus yang berbeda, sebelum mengakhiri sesi tanya jawab dengan wartawan.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada kantor berita AP bahwa operasi militer terhadap sejumlah target di Iran masih berlangsung bahkan setelah Centcom secara resmi mengumumkan serangan tersebut.

Perselisihan atas Kendali Selat Hormuz

Ketegangan terbaru terjadi pada momen krusial ketika Washington dan Teheran tengah berupaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik berdasarkan perjanjian sementara yang dicapai pekan sebelumnya.

Iran semakin mempertegas klaim kendalinya atas Selat Hormuz, jalur perdagangan laut strategis yang menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, membela kebijakan pemerintahnya melalui media sosial. Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan meminta negara lain menghormati aturan yang ditetapkan Teheran. Menurut Azizi, langkah Iran bukan bentuk pelanggaran gencatan senjata, melainkan bagian dari upaya mengelola gencatan senjata.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi juga kembali menegaskan posisi negaranya. Ia memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak mendukung Washington setelah AS bersama enam negara Teluk menolak tuntutan Iran yang menginginkan kewenangan mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

“Keamanan pelayaran di Selat Hormuz tidak dapat dijamin melalui pengaturan yang tidak jelas, jalur alternatif paralel, atau keputusan yang mengabaikan peran Iran sebagai negara pantai,” kata Gharibabadi melalui media sosial X.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa tiga kapal tanker asing yang disebut melakukan lintasan tanpa izin telah diarahkan kembali setelah mendapat peringatan dari IRGC.

Seorang pejabat AS menyatakan Washington mengetahui laporan tersebut dan tengah melakukan penyelidikan. Ia menegaskan Iran tidak memiliki hak untuk menghambat kebebasan lalu lintas maritim internasional.

Kekhawatiran terhadap Distribusi Energi Global Meningkat

Situasi di Selat Hormuz semakin mengkhawatirkan dunia internasional. Serangan terhadap kapal Ever Lovely terjadi ketika Organisasi Maritim Internasional (IMO) sedang berupaya mengevakuasi ratusan kapal yang terjebak di kawasan tersebut melalui jalur alternatif di sepanjang pantai Oman. Namun, badan maritim PBB itu menghentikan sementara operasi setelah insiden itu dan menyatakan bahwa evakuasi tidak akan dilanjutkan sampai terdapat jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang melintas.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez mengatakan, sekitar 115 kapal telah berhasil meninggalkan Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Akan tetapi, sekitar 500 kapal lainnya masih berada di kawasan tersebut. Jalur pelayaran alternatif itu sebelumnya dirancang untuk mengurangi tekanan terhadap perdagangan global sekaligus membatasi pengaruh Iran dalam perundingan dengan Amerika Serikat.

Washington dan Teheran saat ini masih melanjutkan pembicaraan berdasarkan kesepakatan sementara selama 60 hari yang bertujuan menyelesaikan sengketa mengenai keamanan maritim serta masa depan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran. Namun, eskalasi militer terbaru menimbulkan keraguan baru mengenai kemampuan kedua pihak mempertahankan gencatan senjata hingga tercapai kesepakatan permanen.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...