Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, AS Lancarkan Serangan Baru
Teheran pada Minggu (12/7) ini mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan tersebut diambil setelah militer Iran menghantam dan menghentikan pelayaran sebuah kapal yang disebut melintasi jalur perairan itu tanpa izin.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan kapal tersebut membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya saat berlayar, sehingga terpaksa dihantam dan dihentikan. Iran tidak mengungkap identitas kapal tersebut, namun menyebutkan bahwa sejumlah kapal lain berupaya melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diizinkan dan mengabaikan peringatan untuk kembali ke rute yang telah ditentukan.
"Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya campur tangan Amerika Serikat di kawasan ini," ungkap IRGC dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Minggu (12/7).
Teheran juga memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi terhadap Iran akan dibalas dengan respons keras, dan pangkalan-pangkalan musuh baru di kawasan akan menjadi sasaran.
Pada Sabtu (11/7), Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengatakan, pihaknya melancarkan serangan baru ke Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Serangan itu dilakukan setelah pasukan IRGC menyerang kapal kontainer berbendera Siprus M/V GFS Galaxy yang sedang melintasi Selat Hormuz.
Centcom mengatakan, satu awak sipil kapal tersebut dilaporkan hilang. Sementara kapal mengalami kebakaran dan kerusakan parah di ruang mesin sehingga tidak dapat melanjutkan pelayaran.
"Iran kembali diberi kesempatan untuk menunjukkan kepatuhan terhadap Nota Kesepahaman setelah dimintai pertanggungjawaban atas serangan-serangan sebelumnya terhadap kapal komersial, namun kembali gagal melakukannya," kata Centcom melalui akun X.
"Sebagai respons, Amerika Serikat mengenakan konsekuensi yang berat dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintas secara bebas di selat tersebut," tambah pernyataan itu.
Menyusul pengumuman serangan AS, media Pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terdengar di wilayah pesisir dekat Selat Hormuz. Televisi pemerintah melaporkan tiga ledakan terjadi di Bandar Abbas dan dua ledakan di Sirik.
Sementara Kantor Berita Mehr melaporkan ledakan juga terdengar di Pulau Qeshm. Media Iran lainnya melaporkan ledakan di Provinsi Bushehr, Deir, Asalwiya, dan Kota Jask.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, Iran harus menanggung konsekuensi atas tindakannya. "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka harus membayarnya," tulis Hegseth di media sosial.
Perundingan setelah Berakhirnya Gencatan Senjata
Perkembangan terbaru ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bertemu Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, di Oman untuk membahas mekanisme yang tepat guna menjamin pelayaran kapal secara aman di Selat Hormuz, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Kantor berita Pemerintah Oman kemudian menyatakan para perunding Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembicaraan pada tingkat teknis dan politik. Oman selama ini menjadi mediator dalam upaya mengakhiri perang yang mengguncang kawasan Teluk sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Seorang sumber senior Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Iran, AS, Qatar, dan Pakistan telah sepakat melanjutkan perundingan, sementara para mediator berupaya mengatur pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (11/7). Namun, belum dapat dipastikan apakah upaya tersebut berhasil terlaksana.
Sementara itu, AS menuntut Iran menyatakan secara terbuka akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta menjamin seluruh jalur pelayaran dibuka tanpa pungutan biaya, kata sejumlah pejabat senior AS kepada wartawan pada Jumat (10/7).
Trump pada hari yang sama mengatakan Washington dan Teheran sepakat melanjutkan pembicaraan meski ketegangan meningkat dalam sepekan terakhir. Namun, Trump juga menegaskan bahwa gencatan senjata telah berakhir.
"Republik Islam Iran meminta kami untuk melanjutkan pembicaraan. Kami setuju melakukannya, tetapi Amerika Serikat telah memberi tahu mereka dengan sangat jelas bahwa gencatan senjata telah berakhir!" tulis Trump di platform Truth Social.
Di pihak lain, Araghchi menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah mencabut izin yang memungkinkan penjualan minyak mentah Iran di pasar internasional. "Realitanya, kepatuhan hanya bisa terjadi apabila kedua belah pihak sama-sama mematuhinya," tulis Araghchi melalui akun X.
CNN pada Sabtu (11/7) melaporkan, Oman mengajukan rancangan kesepakatan yang memungkinkan kapal melintas bebas melalui koridor selatan di perairan Oman. Sementara itu, kapal yang menggunakan koridor utara di perairan Iran diwajibkan memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Teheran, namun tanpa dikenai biaya. Hingga kini, Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.
Konflik di Selat Hormuz telah mengganggu salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sebelum perang pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar perdagangan gas alam cair melewati selat tersebut. Penutupan jalur itu oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Di tengah eskalasi tersebut, pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan tertulis pertamanya sejak pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada 28 Februari. Dalam pesan yang dirilis bertepatan dengan rangkaian upacara pemakaman itu, Mojtaba menegaskan pihaknya akan membalas dendam atas kematian sang ayah dan warga Iran lainnya yang gugur akibat serangan AS dan Israel.
"Kami berjanji akan membalas darah pemimpin yang gugur dan seluruh para syuhada," tulis Mojtaba.
Sebelumnya, Trump mengatakan telah memerintahkan militer AS bersiap meluncurkan ribuan rudal ke Iran apabila Teheran berupaya melakukan pembunuhan terhadap dirinya. Sejumlah media AS, termasuk The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan Israel telah membagikan informasi intelijen kepada Washington mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Trump.
Pada upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, ribuan pelayat juga terlihat membawa spanduk bertuliskan, "We Will Kill Trump."
