Modi dan Xi Bertemu di KTT BRICS, Upayakan Pemulihan Hubungan India-Cina
Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan Presiden Cina Xi Jinping bertemu di sela-sela KTT BRICS di New Delhi pada Sabtu (12/9). Pertemuan itu menjadi langkah terbaru kedua negara untuk memperbaiki hubungan yang sempat memburuk akibat konflik perbatasan yang menewaskan sejumlah tentara enam tahun lalu.
AP melansir, dalam pertemuan tersebut, Xi mengatakan Cina memandang hubungan dengan India dari perspektif strategis dan jangka panjang. Ia menyerukan agar kedua negara memanfaatkan keunggulan masing-masing, saling mendukung, serta mendorong pembangunan bersama.
Xi juga mendorong terwujudnya kerja sama berkualitas tinggi antara Cina dan India. Menurut dia, kedua negara sebagai anggota penting Global South memiliki peran untuk mendorong terbentuknya dunia yang lebih multipolar serta berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global.
Kantor berita resmi Cina, Xinhua, melaporkan bahwa Xi menyebut hubungan antarlembaga kedua negara secara bertahap mulai kembali berjalan. Seiring dengan itu, perdagangan bilateral Beijing dan New Delhi terus berkembang. Menurut Xi, Cina dan India merupakan mitra, bukan pesaing. Kedua negara juga seharusnya melihat satu sama lain sebagai peluang untuk berkembang, bukan sebagai ancaman.
Sementara itu, Modi menyampaikan apresiasi kepada Xi atas kerja sama Cina dalam penyelenggaraan KTT BRICS. Cina akan menjadi tuan rumah KTT BRICS tahun depan.
BRICS adalah kelompok negara yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan Cina, kemudian diperluas dengan bergabungnya Afrika Selatan serta sejumlah negara lainnya.
Modi menegaskan, terciptanya perdamaian di sepanjang wilayah perbatasan yang disengketakan menjadi syarat penting bagi penguatan hubungan kedua negara. Ia juga meminta India dan Cina mematuhi kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri India pada Sabtu malam.
Kedua pemimpin juga kembali menegaskan komitmen untuk mencari penyelesaian sengketa perbatasan yang adil dan dapat diterima kedua pihak. “Perbedaan tidak boleh berubah menjadi perselisihan,” kata Modi.
“Kedua belah pihak harus berpedoman pada tiga prinsip bersama: saling menghormati, saling peka, dan saling menguntungkan,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Modi dan Xi turut membahas upaya memperluas hubungan antarmasyarakat dan dunia usaha. Kedua negara juga membicarakan sejumlah persoalan ekonomi, termasuk ketidakseimbangan perdagangan, rantai pasokan, dan akses pasar.
Pertemuan terbaru itu melanjutkan dialog antara kedua pemimpin yang sebelumnya berlangsung di Cina pada tahun lalu. Saat itu, Modi berkunjung untuk menghadiri pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), organisasi regional yang bergerak di bidang politik, ekonomi, dan keamanan serta didirikan oleh Cina.
Pertemuan di New Delhi menjadi kunjungan pertama Xi ke India sejak 2019. Agenda tersebut juga menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk secara perlahan mencairkan hubungan yang membeku menyusul konflik maut di perbatasan Cina-India enam tahun lalu.
Konflik Perbatasan Jadi Beban Hubungan
Konflik militer pada 2020 menewaskan sedikitnya 20 tentara India dan empat anggota militer Cina di sepanjang perbatasan yang berada di wilayah Ladakh, kawasan pegunungan dan gurun dengan kondisi cuaca ekstrem. Bentrokan tersebut kemudian berkembang menjadi kebuntuan berkepanjangan di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau. India dan Cina masing-masing menempatkan puluhan ribu personel militer di kawasan tersebut, lengkap dengan artileri, tank, dan jet tempur.
Dalam beberapa waktu terakhir, India dan Cina telah mengambil sejumlah langkah untuk menurunkan ketegangan. Namun, ketidakpercayaan antara kedua negara masih cukup kuat.
Kedua negara yang sama-sama memiliki senjata nuklir itu masih berselisih mengenai sejumlah bagian wilayah perbatasan. Hubungan bilateral juga terbebani oleh besarnya defisit perdagangan India dengan Cina, pembatasan investasi dan teknologi dari Cina, serta persaingan kepentingan strategis kedua negara di kawasan Asia.
India juga terus memperkuat infrastruktur militernya di sepanjang perbatasan yang disengketakan. Di sisi lain, Beijing membangun jalan dan sejumlah fasilitas pertahanan di wilayah perbatasan tersebut.
Kunjungan Xi ke India menjadi ujian untuk melihat apakah langkah-langkah pencairan hubungan yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir dapat berkembang menjadi stabilisasi hubungan yang lebih luas.
Sejak Perang India-Cina pada 1962, perekonomian kedua negara telah berkembang pesat. Namun, Cina tumbuh jauh lebih cepat dan kini mencatat surplus perdagangan yang besar terhadap India. Persaingan ekonomi yang semakin kuat tersebut menambah kompleksitas persoalan teritorial dan strategis yang telah berlangsung lama.
India berusaha memanfaatkan kenaikan biaya tenaga kerja di Cina serta hubungan Cina yang semakin tegang dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa. New Delhi ingin menjadikan India sebagai basis alternatif bagi perusahaan-perusahaan asing yang ingin membangun fasilitas produksi.
Di sisi lain, India memandang Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) Cina yang bernilai miliaran dolar dengan penuh kekhawatiran dan secara tegas menentangnya.
Pada saat yang sama, hubungan strategis India dengan Amerika Serikat yang terus berkembang juga menjadi sumber kekhawatiran bagi Beijing. Cina melihat kemitraan tersebut sebagai bagian dari upaya untuk membendung dan menandingi kebangkitan Cina di kawasan.
