Mengenal Platform OnlyFans: Sejarah Pembuatan Hingga Kontroversi

Image title
25 Maret 2022, 14:17
OnlyFans
Reuters
OnlyFans

ZIGI – Situs OnlyFans sudah ada sejak tahun 2016 dan berkembang luar biasa cepat. Platform ini awalnya ditujukan untuk kreator yang ingin karyanya dinikmati secara eksklusif dan berbayar. Namun akhir-akhir ini banyak konten seksual yang juga ikut diposting.

Dalam perjalanannya, OnlyFans banyak menerima kritik karena dianggap tidak memiliki tingkat keamanan yang ketat. Simak selengkapnya di bawah ini.

Baca juga: 5 Pengakuan Dea OnlyFans, Bingung Soal Hukum Sebelum Ditangkap

Sejarah OnlyFans Terbentuk

OnlyFans
Photo : AndroidPolice
OnlyFans

OnylFans adalah platform yang dibentuk pada tahun 2016 oleh pengusaha Inggris bernama Timothy Stokley. Pada awalnya situs ini menyediakan ruang bagi konten kreator untuk mengunggah hasil karyanya secara eksklusif. Mereka yang ingin menikmati karya tersebut harus membayar harga langganan tertentu. 

Biasanya harga langganan sekitar $5 hingga $50 atau sekitar Rp71 ribu hingga Rp710 ribu. Fitur yang tersedia adalah unggahan foto video, phone call dari kreator kepada klien, pesan langsung hinggga grup chat.

Melansir dari Businees Insider pada Jumat 25 Maret 2022, klien atau pelanggan bisa memberikan tip. Subscriber yang baru join kurang dari 4 bulan bisa memberikan uang tip hingga Rp1,4 juta. Sedangkan mereka yang sudah lama bisa berdonasi hingga Rp2,8 juta.

Tidak hanya itu, OnlyFans juga memberikan peringkat kreator top setiap bulan. Mereka yang bisa masuk dalam Top Creator akan mendapat kesempatan luas untuk mengenalkan akunnya kepada subscriber baru.

Menurut data tim OnlyFans, rata-rata kunjungan situs mencapai 174 juta kali dalam sebulan. Sedangkan perhari mencapai 5,5 juta pengunjung. Total ada 150 juta subscriber dengan 1,5 juta konten kreator. 

Platform OnlyFans akan mengambil keuntungan hingga 20 persen dari setiap pendapatan konten. Total lebih dari US$5 miliar yang telah dibayarkan kepada setiap pembuat konten. 

OnlyFans Dikaitkan Dengan Konten Porno

Ilustrasi orang membuka akun OnlyFans
Photo : Unsplash
Ilustrasi orang membuka akun OnlyFans

Namun dalam perjalannnya, OnlyFans mendapat banyak protes. Pasalnya, platform ini tidak memiliki filter khusus hingga seluruh jenis konten bisa masuk. Misalnya foto atau video dari anak di bawah umur hingga kebocoran konten yang merugikan pembuatnya. 

Saat ini banyak konten sensual yang dibuat sehingga platform ini identik dengan penyebaran foot dan video seksi. Di beberapa negara seperti Amerika dan Inggris, OnlyFans membuat cara kerja Pekerja Seks Komersial berubah. 

Selama pandemi misalnya, pekerja seks menjadi salah satu bagian masyarakat yang rawan terkena Covid-19. Untuk menyiasati hal ini, maka mereka memilih mengalihkan layanan dalam bentuk online. 

Pada awal Maret hingga April 2020 saat pandemi mulai diterapkan, OnlyFans mengalami peningkatan pendaftaran konten dan pengguna sebesar 75%. Jumlah transaksi bahkan naik hingga 553%.

OnlyFans Diminta Waspada Dengan Pengguna Anak-Anak

Ilustrasi konten kreator Gen Z
Photo : Pexels
Ilustrasi konten kreator Gen Z

Mei 2021, BBC News melaporkan banyak pengguna anak-anak yang menjual dan muncul dalam video eksplisit. Video vulgar tersebut dengan cepat beredar di kalangan anak-anak di bawah usia legal. Jadi bisa dibilang pengawasan dari pihak situs sangat lemah. 

Saat ini pihak berwenang hanya melarang konten seperti pornografi anak, revenge porn, extreme porn yang melibatkan hewan, pelecehan seksual, dan juga mayat. Namun OnlyFans tidak akan memblokir konten vulgar jika foto atau video tersebut masuk dalam ranah 'legal'.

Tidak hanya itu, Maret 2020 total ada 4 terabyte konten yang botor dan disebarkan begitu saja. Hal ini membuat rugi banyak kreator.

Saat ini Indonesia telah memblokir situs OnlyFans sehingga mereka yang ingin mengakses harus menggunakan VPN Khusus. Terbaru adalah konten kretor Indonesia bernama Dea OnlyFans yang ditangkap polisi karena menjual foto topless di situs ini. 

Baca juga: Profil dan Biodata Dea OnlyFans: Agama, Profesi, Instagram, Gaji

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...