Dua Merek Fesyen Lokal Bawa Gaya Jalanan ke Pasar Amerika Serikat

Pingit Aria
23 Agustus 2018, 13:14
Oldblue Co
Instagram/@oldblueco
Oldblue Co

Dua merek fesyen lokal, yakni Oldblue Co dan Unionwell menjajal pasar Amerika Serikat (AS) melalui pameran "Liberty Fashion and Lifestyle Fairs" pada 13─15 Agustus 2018 di Las Vegas. Pameran ini juga menampilkan berbagai merek pakaian pria internasional kelas atas, seperti Karl Lagerfeld Paris, Levi’s Strauss & Co, dan Hugo Boss.

Selama pameran, Old Blue Co menampilkan celana jins berbahan raw denim dengan ciri khas yang berat dan tidak banyak diproses. Tema desain utama dari merek ini berasal dari budaya denim yang digunakan penambang jaman dulu.

"Banyak buyer potensial atau pengamat produk denim yang tidak menyangka bahwa celana jins ini buatan Indonesia. Hal ini karena pada umumnya penjual produk celana jins berbahan raw denim yang berkualitas tinggi berasal dari AS, Jepang, dan Eropa," ujar pendiri Old Blue Co, Ahmad Hadiwijaya, Kamis (23/8).

Tren fesyen denim, menurutnya kembali melonjak di tahun 2018 setelah sebelumnya sempat menurun akibat kompetisi dengan 'leggings' dan celana yoga. Namun kenyamanan dan fungsionalitas denim saat ini setara dengan tren pakaian olahraga yang digunakan sehari-hari, membuat denim kembali digemari.

(Baca juga: Bekraf Kirim 5 Merek Fesyen ke Pameran 'Jalanan' di AS)

Sementara, Unionwell menghadirkan fesyen gaya pakaian jalanan pengguna sepeda motor seperti jaket kulit, jaket kain, kaos sablon, dan berbagai aksesori dengan menampilkan ciri khas Indonesia.

"Ekspektasi buyer yang tinggi kami jadikan sebagai pembelajaran untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan produk sehingga Unionwell bisa semakin siap melakukan penetrasi pasar ke AS," kata salah satu pemilik Unionwell, Pramadita Tasmaya.

Keikutsertaan kedua brand tersebut didukung oleh Indonesian Trade Promotion Center Los Angeles (ITPC LA). "Partisipasi Old Blue Co dan Unionwell merupakan salah satu upaya ITPC LA memperkenalkan merek pakaian Indonesia ke pasar AS,” kata Kepala ITPC LA, Antonius A Budiman.

Antonius menyatakan, pada periode Januari–Juni 2018, impor produk luaran (outerwear) dan celana pria AS dari dunia sebesar US$ 4,2 miliar atau meningkat 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Pada paruh pertama tahun ini, Indonesia merupakan negara asal impor ke-5 untuk produk pakaian pria AS dengan nilai US$ 138,7 juta atau meningkat 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Konsumen AS juga dinilainya semakin tertarik dengan denim bergaya vintage dalam pembuatannya yang tidak terlalu banyak proses atau pencucian. Denim dan pakaian kasual lainnya memegang pangsa pasar pakaian pria di AS sebesar 57,1% dan diperkirakan akan terus bertumbuh.

(Baca juga: Ekonomi Kreatif Hadapi Masalah Produksi hingga Ekspor Tak Merata)

Selain denim, pakaian bergaya jalanan juga kembali menjadi tren fesyen. Rumah mode besar seperti Louis Vuitton dan Gucci juga turut mempopulerkan dengan melakukan kolaborasi bersama desainer dan merek Streetwear. Selain itu, meningkatnya daya beli generasi muda saat ini memberikan andil yang cukup besar terhadap peningkatan tren pakaian bergaya jalanan.

Platform digital juga sangat menentukan kesuksesan fesyen pakaian pria. "Misalnya dengan mengoptimalkan penggunaan web; media sosial; influencer besar seperti atlet dan selebritas; pemasaran melalui pos elektronik yang ditargetkan pada audiens pria; serta forum lainnya seperti Reddit," kata Antonius.

Pada periode tahun 2017─2022, tren pasar pakaian pria di AS diperkirakan naik 1,4%. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan pasar pakaian wanita yang sebesar 0,8%. Sementara itu, pertumbuhan pasar retail pakaian pria AS tahun 2018 diprediksi sebesar US$ 74,8 miliar atau naik 20,5% dibandingkan tahun 2013.

Reporter: Pingit Aria

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...