Mantan Gubernur OPEC Sebut Penurunan Harga BBM Bisa Timbulkan Inflasi

Image title
14 Mei 2020, 17:28
harga bbm, harga minyak, inflasi, pertamina
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.
Petugas SPBU menunggu konsumen di SPBU COCO Pertamina, Kuningan, Jakarta, Rabu (29/4/2020). Mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan jika harga BBM turun maka berpotensi menimbulkan inflasi.

Mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC Widhyawan Prawiraatmadja menilai penurunan harga bahan bakar minyak atau BBM saat ini tidak tepat. Sebab, kebijakan tersebut berpotensi memunculkan inflasi

Menurut Widhyawan, penurunan harga BBM tidak akan berpengaruh terhadap deflasi. Sebaliknya, inflasi bisa timbul jika pemerintah menaikkan harga BBM saat harga minyak berbalik naik. 

Advertisement

"Jika harga BBM diturunkan, lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Saya tidak punya angle politis, saya teknokrat yang berusaha objektif dan menyampaikan apa adanya,” kata Widhyawan dalam keterangan tertulis pada Kamis (14/5).

Dosen senior Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga berpendapat penurunan harga BBM saat ini kurang berdampak bagi masyarakat. Sebab, tingkat konsumsi BBM turun drastis.

Apalagi beberapa daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah virus corona."Masyarakat yang diam di rumah karena pandemi Covid-19 tidak merasakan manfaatnya," kata dia. 

(Baca: Harga Minyak Indonesia Terus Anjlok, Formula Harganya Jadi Sorotan)

(Baca: BPH Migas Ingin Harga BBM Turun Demi Keadilan Sosial)

Di sisi lain, menurut Widhyawan, kondisi harga minyak yang berfluktuasi telah memukul keuangan Pertamina. Dari sisi hilir, penurunan harga minyak bisa menguntungkan perusahaan. Namun, volume penjualan yang anjlok membuat biaya yang dikeluarkan BUMN tersebut semakin besar.

"Apalagi, tidak seluruh bahan baku BBM diperoleh melalui impor. Ada juga yang diserap dari dalam negeri dan lifting sendiri," ujarnya.

Dari sisi hulu, harga minyak yang jatuh membuat perusahaan pelat merah itu berrpotensi merugi. Sebab, Pertamina tidak bisa langsung menutup operasional migas mereka.

"Jika sumur shut down, untuk membuka kembali membutuhkan biaya besar dan secara teknis belum tentu bisa kembali produksi. Beban yang diterima Pertamina berat sekali, dan ini yang banyak orang tidak tahu," ujarnya.

Selain itu, Pertamina memiliki bisnis pengolahan minyak mentah menjadi BBM. Bisnis kilang tersebut pun mengalami kerugian karena permintaan berkurang.

Padahal, keekonomian kilang terletak pada minyak mentah sebagai bahan baku, biaya pengolahan, dan juga BBM yang dihasilkan. "Jika demand jauh berkurang, keekonomian kilang juga terbebani, pengilangan juga dalam konteks rugi," kata Widhyawan.

Halaman:
Reporter: Antara
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement