Mabes Polri Diserang, Jokowi Minta Kapolri hingga Panglima TNI Waspada

Rizky Alika
1 April 2021, 11:02
teroris, polisi, jokowi
Youtube/Seretariat Presiden
Presiden Joko Widodo memberikan pernyataan atas kejadian bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3). Usai penyerangan Mabes Polri oleh sesorang berinisial ZA, (31/3), Jokowi menegaskan tak ada tempat bagi teroris di Indonesia.

Seorang terduga teroris telah ditembak mati usai menyerang Markas Besar Kepolisian RI, Kebayoran Baru, Rabu (31/3). Presiden Joko Widodo pun memastikan, tidak ada tempat bagi terorisme di Indonesia.

Jokowi pun telah memerintahkan Kepala Polri, Panglima TNI, dan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia juga meminta seluruh masyarakat untuk waspada, namun tetap tenang.

"Saya tegaskan, tidak ada tempat bagi terorisme di Tanah Air," kata Jokowi di Gerbang Tol Pamulang, Tangerang Selatan, Kamis (1/4). "Jaga persatuan dan kita semuanya bersatu melawan terorisme," ujar dia.

Sebelumnya, seorang dengan pakaian hitam ditembak mati aparat kepolisian usai masuk Markas Besar Polri, Kebayoran baru, Rabu (31/3). Ia roboh dihantam timah panas usai menodongkan senjata kepada petugas.

Dari video yang beredar, orang tersebut telah memasuki areal dekat ruangan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Ia lalu mendekati pos jaga sebelum menodongkan senjata ke petugas.

Tak lama, orang tersebut menjauh dari pos sebelum terkapar usai ditembak aparat. "Tadi ada sekitar 6-7 kali tembakan terdengar," kata Hendri, juru parkir di sekitar Markas Bareskrim Polri, dikutip dari Antara, Rabu (31/3).

Sedangkan Kepala Polisi RI Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan terduga teroris berinisial ZA dan menembak ke arah petugas sebanyak enam kali. Oleh sebab itu aparat langsung menembak mati yang bersangkutan.

"Dua kali tembakan kepada anggota yang ada di dalam pos, dua kali ke arah yang ada di luar dan kepada anggota yang ada di belakangnya," kata Kapolri di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3) dikutip dari Antara.

Serangan ini terjadi kurang dari sepekan sejak bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Minggu (26/3). Aparat juga telah menangkap sejumlah orang yang diduga teroris di Jakarta hingga Nusa Tenggara Barat.

Penangkapan Setelah Bom Makassar

Sementara itu, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap tiga orang terduga teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono, mengatakan satu terduga ditangkap di Makassar, Sulawesi Selatan, sedangkan dua terduga ditangkap di Tulungagung dan Nganjuk, Jawa Timur.

"Data terbaru di Makassar dilakukan penangkapan lagi seorang laki-laki berinisial I umur 40 tahun," kata Rusdi dalam konferensi Pers di Gedung Humas Polri Jakarta, Rabu (31/3).

Rusdi menjelaskan, terduga berinisial I ini masuk dalam kelompok kajian Vila Mutiara, tempat kajian yang sama dengan pelaku bom bunuh diri di gerbang depan Gereja Katedral Makassar. Sebelum menangkap I, Tim Densus 88 Antiteror telah menangkap tiga orang perempuan dan empat orang lainnya yang juga mengikuti kajian di Vila Mutiara.

"Sampai saat ini sudah delapan orang yang ditangkap di Makassar," kata Rusdi.

Pelaku bom bunuh diri yakni pasangan suami istri berinisial L dan YSF merupakan kelompok kajian Vila Mutiara yang berafiliasi dengan JAD. Penangkapan selanjutnya dilakukan di Kabupaten Tulungagung, satu orang berinisial MM usia 45 tahun. Dan di Kabupaten Nganjuk juga seorang laki-laki berinisial LAM berusia 25 tahun.

"Mereka masuk dalam kelompok JAD di wilayah Tulungagung dan Nganjuk," ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rizky Alika

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...