Berebut Pemilih, Wacana Koalisi Partai Islam Diprediksi Sulit Terwujud

Ameidyo Daud Nasution
16 April 2021, 22:06
partai, parpol, partai Islam, ppp, PKs
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.
Presiden PKS Ahmad Syaikhu (kiri) berbincang dengan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa saat silaturahmi kebangsaan PKS-PPP di DPP PKS, Jakarta, Rabu (14/4/2021). Silaturahmi kedua partai Islam itu diantaranya membahas langkah-langkah politik yang memihak umat Islam.

Wacana poros partai Islam muncul usai pertemuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan, Kamis (16/4). Meski demikian, gagasan ini tak disambut baik oleh Partai Amanat Nasional.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan menganggap wacana tersebut kontraproduktif dengan upaya rekonsiliasi seluruh elemen masyarakat. Bukan tanpa sebab, Masyarakat saat ini sudah cukup terbelah usai penggunaan politik identitas saat Pemilihan Presiden 2019.  

Menurutnya, luka di masyarakat masih terasa meski elite saat ini cepat bersatu. “Seharusnya kita bersama-sama berpikir kesejahteraan rakyat, mewujudkan ide kesetaraan, gagasan kedaulatan, dan seterusnya,” kata Zulkifli, Jumat (16/4) dikutip dari Antara.

Pengamat juga menganggap wacana ini sulit terwujud lantaran ceruk pemilih yang relatif sama. Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari mengatakan keengganan Zulkifli bisa juga terjadi karena PAN dan PKS berebut ceruk pasar yang sama.

“PKS dan PAN itu sama-sama basis Islam modernis, akan sulit kerja sama karena memperebutkan pasar yang sama,” kata Qodari dalam rekaman video yang dibagikan, Jumat (16/4).

Adapun, PPP dalam hal ini cocok jika bekerja sama dengan PKS lantaran berasal dari kalangan tradisional. Namun, Qodari mengatakan akan sulit mempertemukan Partai Kakbah dengan Partai Kebangkitan Bangsa dalam satu platform.

“Karena basisnya sama-sama Nahdliyin, segmennya sama dan tidak menambah suara,” katanya.

Senada dengan Qodari, penelisi Lingkaran Survei Indonesia Rully Akbar beranggapan koalisi besar ini akan sulit terbentuk lantaran karakter akar rumput pendukung yang berbeda. Ia menduga wacana koalisi ini hanyalah langkah sejumlah partai berbasis agama untuk berkompetisi melawan partai yang sudah mapan.  

“Ada kebutuhan melawan partai mapan seperti PDI Perjuangan, Golkar, atau Gerindra,” katanya.

Sebelumnya Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa bertemu dengan Ketua Umum PKS Ahmad Syaikhu, Kamis (15/4). Dalam pertemuan, kedua partai membuka kans membentuk koalisi untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam dalam Pemilihan Umum 2024.

Sekretaris Jenderal PKS Habib Aboe Bakar Alhabsyi juga akan menyambut siapapun yang bergabung dengan koalisi ini. Apalagi persiapan menuju gelanggang 2024 masih panjang. “Kami akan menyatukan kerja sama besar dengan partai lain,” kata Aboe Bakar.

Sekretaris Jenderal PPP Arwani Thomafi juga menganggap peluang adanya koalisi adalah salah satu cara membangun demokrasi yang lebih baik. Senada dengan PKS, Partai Kakbah juga melihat potensi pada 2024 mendatang. “Kami terbuka berbicara dalam berbagai sisi menuju tatanan 2024,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...