Emas Olimpiade, Hadiah Indah Greysia untuk Negara dan Almarhum Kakak

Image title
Oleh Maesaroh
2 Agustus 2021, 19:44
emas olimpiade, Greysia Polii, profil Greysia Polii, olimpiade, tokyo
ANTARA/Sigid Kurniawan/hp
Pebulutangkis ganda Putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu melakukan selebrasi setelah mengalahkan lawannya ganda putri China Chen Qing Chen/Jia Yi Fan dalam final Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp

Seperti kisah burung Phoenix yang bangkit  setelah terbakar menjadi abu, begitulah gambaran perjalanan karier Greysia Polii di Olimpiade Tokyo 2020. Dibayang-bayangi kegagalan di dua olimpiade sebelumnya dan rasa sedih kehilangan kakak tercinta, Greysia pantang patah hingga akhirnya bersinar di Tokyo.

Nama Greysia jelas tidak asing dalam dunia badminton Indonesia. Ia merupakan salah satu atlet senior di pelatnas Indonesia.  Namun, butuh waktu lama bagi Greysia untuk menjadi yang terbaik. Sebelum Olimpiade Tokyo, prestasi terbaiknya adalah medali emas  di Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan.

 Menjadi atlet ganda puteri, membuat Greysia harus rela bergonta-ganti pasangan untuk menemukan patner terbaik. Dia sempat beberapa kali ganti pasangan, sampai akhirnya  ia menemukan Apriyani Rahayu untuk berjuang bersama, termasuk di Olimpiade Tokyo 2020.

Perjalanan  karier  Greysia memang tidaklah berjalan mulus. Perempuan kelahiran Jakarta 33 tahun yang lalu itu mengawali karier di pentas internasional sejak 2003. Ia berpasangan dengan Heni Budiman dalam kejuaraan Malaysia Satellite 2003. Mereka berhasil mencapai tahap semifinal.

Pada tahun 2004,  pemain setinggi 164 cm tersebut dipasangkan Jo Novita untuk mengikuti turnamen Piala Uber. Sayang, usaha mereka terhenti di tahap perempat final. Selanjutnya, berbagai kejuaraan ia diikuti seiring pencarian pasangan yang paling klop untuknya.

Setelah Jo Novita, Greysia dipasangkan dengan Nitya Maheswari. Pasangan ganda putri Indonesia itu mengikuti berbagai kejuaraan badminton dunia, mulai dari Sudirman Cup, Singapore Open, All England, hingga Asian Games. Puncak prestasi mereka adalah berhasil meraih emas di Asian Games 2014.

Ketika berpasangan dengan Nitya Maheswari, Greysia pun sempat menjadi tandem bersama nama-nama lain. Tercatat Anggia Shitta Awanda dan Meiliana Jauhari pernah menjadi pasangannya.

 Bersama Meiliana Jauhari, Greysia telah merasakan atmosfer Olimpiade London 2012. Pengalaman debut tersebut meninggalkan bekas yang pahit, karena peraih emas di SEA Games 2019 itu tersandung tuduhan telah sengaja mengalah dari pasangan ganda putri Korea Selatan di babak penyisihan grup.

Tuduhan itu diduga karena Greysia/Meiliana menghindari pasangan Tiongkok di perempat final. Dengan begitu, ia didiskualifikasi dari pagelaran olahraga akbar tersebut.

Empat tahun setelahnya, Greysia kembali menginjakkan kaki di lapangan Olimpiade Rio 2016. Saat itu ia berpasangan dengan Nitya Maheswari.  Sayangnya, perjalanan mereka terhenti di babak perempat final.

Pada tahun 2017, Greysia mulai dipasangkan dengan Apriyani Rahayu yang merupakan atlet kelahiran Konawe, 29 April 1998.  Sebelumnya, Greysia sempat berpikir pensiun tapi sosok Apriyani yang masih muda dan semangatnya masih membara mampu membuat seorang senior Greysia menjaga asa meraih berbagai kejuaraan.

Berpasangan dengan juniornya tersebut, ritme permainan Greysia juga semakin terjaga. Jarak usia 10 tahun justru membuat mereka saling melengkapi.  Greysia yang berperan sebagai leader berusaha mengatur tempo dan dinamika permainan. Pengalamannya yang bejibun juga membuatnya tahu strategi untuk menjatuhkan mental lawan.

Pasangan Greysia/Apriyani telah menorehkan banyak prestasi, beberapa di antaranya adalah meraih perunggu di ajang BWF 2018 dan 2019, serta perunggu di Asian Games 2018.

Setelah jatuh bangun di berbagai ajang dan kejuaraan,  pasangan Greysia/Apriyani kini telah sampai pada salah satu pencapaian puncak seorang atlet, yaitu meraih emas di ajang Olimpiade. Tidak hanya meraih medali tertinggi, emas di Olimpiade Tokyo yang diraih pasangan tersebut juga menorehkan sejumlah sejarah dan catatan manis. 

Kemenangan tersebut mengakhiri puasa panjang selama 29 tahun dari nomor ganda puteri untuk mempersembahkan medali emas Olimpiade. Greysia/Apriyani juga menjaga tradisi perolehan emas Indonesia di ajang Olimpiade sekaligus menggenapkan perolehan emas di seluruh nomor bulu tangkis.  Berkat perjuangan pasangan tersebut, kini koleksi emas Indonesia dari cabang olahraga bulu tangkis sudah lengkap mulai dari tunggal putera, tunggal puteri, ganda putera, ganda puteri, dan ganda campuran.

 Bagi Greysia, kemenangan ini membayar pengalaman pahitnya di Olimpiade London 2012. Lebih dari itu, ia telah menunaikan mimpi masa kecilnya sejak berusia 13 tahun untuk menjuarai Olimpiade.

“20 tahun yang lalu ketika saya berusia 13 tahun, saya tahu Indonesia belum membuat sejarah di ganda puteri dan saya bersabar,” ucap Greysia di laman resmi BWF.

Kemenangan yang didapatkan Greysia bukan hanya persoalan latihan keras dan komitmen yang tinggi. Di balik segala usaha keras di lapangan, di balik lapangan dia memiliki kisah yang haru.

Ia telah ditinggalkan kakaknya, Rickettsia Polii, yang meninggal pada akhir tahun 2020 karena Covid-19. Kakaknya merupakan pengganti sosok ayah dalam hidup Greysia, karena ia ditinggalkan ayahnya sejak usia 2 tahun.

“Saya tak mempunyai ayah sejak 2 tahun. Kakak saya sudah seperti ayah saya. Dia telah pergi, dan saya mengerahkan segala kemampuan agar bisa kakak saya nikmati di surga,” ucap Greysia.

Pencapaian Greysia di Olimpiade Tokyo 2020 menjadi hadiah sempurna bukan hanya untuk rakyat Indonesia, melainkan secara spesial untuk mendiang kakaknya, Rickettsia Polii. Emas juga menjadi kado ulang tahunnya yang akan jatuh pada 11 Agustus mendatang.

(Akbar Malik Adi Nugraha)

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...