Belum WFO 100% tapi Jakarta Sudah Kembali Macet, Ini Penyebabnya

Cahya Puteri Abdi Rabbi
4 November 2021, 14:34
Jakarta, macet, WFO, pandemi, covid-19
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Suasana kemacetan saat jam pulang kerja pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/9/2021).ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.\

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menilai keraguan masyarakat untuk menggunakan angkutan umum di masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab kemacetan di beberapa ruas jalan di DKI Jakarta. 

Direktur Lalu Lintas BPTJ Sigit Irfansyah mengatakan, keraguan dan takut tertular virus Covid-19 tersebut membuat mereka kembali menggunakan kendaraan pribadi, sehingga kembali kepadatan pun terjadi di ruas jalan DKI Jakarta.

"Masyarakat masih ragu menggunakan angkutan umum jadi macet. Padahal mobilitas masih kurang karena belum semua kantor memberlakukan work from office (WFO) 100%," kata Sigit dalam sebuah webinar, Kamis (4/11).

 Ia mengatakan, secara matematis, dengan kondisi perkantoran yang belum sepenuhnya berkegiatan 100%, seharusnya kondisi jalanan masih lengang. 

Pilihan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi terlihat dari tingkat okupansi dari transportasi umum.

Sigit menyebut, angkutan umum seperti KRL commuter line sebelum pandemi memiliki kapasitas penumpang 1,2 juta per hari.

Namun, sejak adanya pandemi dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) jumlahnya mungkin turun bahkan hingga setengahnya.

"Artinya, belum pulih masyarakat yang naik ke kereta api dia milih ke angkutan pribadi,"  kata dia.

Begitu juga dengan Transjakarta. Menurut catatannya, Transjakarta pernah mencapai puncaknya yakni sebanyak 800.000 penumpang per hari atau mencapai 1 juta.

Akan tetapi, dalam kondisi seperti ini angka tersebut sulit dicapai kembali.

 Padahal, sejak 21 Oktober lalu Transjakarta sudah beroperasi normal dengan kapasitas 100%, dari sebelumnya 50%.

Meski demikian, Transjakarta tetap menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat, baik di halte maupun di dalam bus.

Menurutnya, butuh waktu untuk mengembalikan okupansi angkutan umum bisa tercukupi sebagaimana sebelum pandemi.

Ia menambahkan, kuncinya yakni ada pada penyampaian informasi mengenai kapasitas angkutan umum kepada masyarakat luas.

 Selain itu, pemberian informasi mengenai penerapan protokol kesehatan di transportasi umum juga harus dilakukan secara masif, agar keraguan dan ketakutan masyarakat hilang dan kembali menggunakan transportasi umum untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 

"Jadi artinya apa? Kata kuncinya di sini adalah bagaimana kita memberi informasi kepada masyarakat bahwa angkutan umum sudah kembali normal dan save. Itu masalah kata kuncinya baru," katanya.

Selain meningkatkan kapasitas, pengelola moda transportasi umum telah memperpanjang jam operasional.
Langkah tersebut diharapkan semakin menarik minat masyarakat umum untuk menggunakan transportasi publik.

PT MRT Jakarta telah  memperpanjang jam operasional Moda Raya Terpadu (MRT) seiring PPKM Level 1 di ibu Kota.

Operasional kereta bawah tanah tersebut diperpanjang hingga 22.30 WIB. Sebelumnya, jam operasional MRT berakhir pada pukul 21.30 WIB.

Sedangkan jam dimulainya pelayanan tetap pada pukul 05.00 untuk Senin sampai Jumat dan 06.00 pada Sabtu dan Minggu.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...