Lima Mitos Varian Omicron Ini Dipatahkan Kemenkes Lewat Penelitian

Amelia Yesidora
8 Februari 2022, 17:15
omicron, covid-19, varian omicron, kemenkes
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.
Petugas kesehatan mendata warga penerima vaksin COVID-19 dosis ketiga saat vaksinasi booster COVID-19 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (25/1/2022). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kebut program vaksinasi booster atau dosis ketiga di wilayah Jabodetabek setelah mendeteksi adanya lonjakan kasus Omicron di Indonesia. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.

Peningkatan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia sudah melampaui puncak kasus varian Delta pada pertengahan 2021 lalu. Untuk membendung penularan varian Omicron, sejak Desember 2021 Kementerian Kesehatan alias Kemenkes menunjuk Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Jakarta untuk merawat pasien Omicron pertama kali.

Kemenkes juga menerapkan kebijakan pemusatan pasien Covid-19 ke RSPI. Hal itu bertujuan untuk meneliti sejauh mana gejala varian Omicron akan berdampak pada korban. 

Dua hari lalu, tepatnya Senin (6/2), RSPI Sulianti Saroso mempublikasikan hasil penelitian yang menunjukkan fakta vaksinasi dosis lengkap dapat mengurangi risiko terburuk Covid-19. Bahkan, mengurangi risiko kematian.

Adapun penelitian tersebut mengambil data sampel dari 12 orang pasien Covid-19 yang dirawat, dalam kondisi berat dan kritis. Alasan pasien-pasien tersebut dirawat di RSPI, karena memiliki minimal satu penyakit penyerta, dan setengahnya belum melakukan vaksinasi. Di mana, dari enam pasien yang belum menerima vaksinasi, tiga orang dinyatakan meninggal dunia. 

Mematahkan Lima Mitos Varian Omicron

Kemenkes berhasil mengungkap lima mitos yang kerap beredar di masyarakat terkait var. Pertama, yaitu varian Omicron memiliki gejala yang ringan. Kemenkes menyebutkan, Omicron memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat, namun gejala yang ditimbulkannya tidak separah varian Delta. 

Faktanya, itu tidak berlaku bagi lansia, kelompok masyarakat dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan kelompok masyarakat yang belum divaksinasi. Dalam paparannya, ketiga kelompok masyarakat ini masih tetap memiliki potensi kematian setelah terinfeksi Covid-19.

Penelitian RSPI Sulianti Saroso juga menunjukkan bahwa komorbid atau penyakit penyerta sangat memengaruhi tingkat komplikasi akibat virus Covid-19. Hal itu ditunjukkan dari seluruh sampel yang memiliki minimal satu penyakit peserta. Bahkan, ada sampel pasien yang memiliki rekor jumlah komplikasi komorbid terbanyak, yaitu enam penyakit penyerta.

Mitos kedua, vaksin tidak mempan lumpuhkan virus Covid-19 varian Omicron. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, vaksin justru menjadi proteksi terbaik untuk melawan varian ini. Pasalnya, 60 % pasien Omicron di Indonesia yang meninggal dunia ternyata belum pernah divaksinasi.

"Data ini kembali menunjukkan pentingnya vaksinasi untuk mengurangi risiko terburuk dari terpapar Covid-19, yaitu kematian,” kata Siti Nadia Tarmizi, juru bicara Covid-19 Kemenkes. 

Ketiga, orang yang belum divaksinasi tidak akan bergejala parah apabila terinfeksi varian Omicron. Mitos tersebut disanggah oleh Kemenkes, faktanya kebanyakan pasien Omicron yang dirawat di rumah sakit justru merupakan kelompok masyarakat yang belum divaksin.

Dengan fakta tersebut, Siti juga menjelaskan bahwa ada empat kelompok masyarakat yang menjadi korban paling dirugikan di masa pandemi ini, yaitu kelompok lansia, anak-anak, kelompok yang memiliki komorbiditas, dan kelompok yang belum divaksinasi.

Keempat, varian Omicron tidak bisa menginfeksi orang yang sudah pernah terkena Covid-19 sebelumnya. Pernyataan itu disanggah Kemenkes, dengan fakta bahwa orang yang sudah pernah positif Covid-19 masih bisa terkena Omicron. Perbedaannya terletak pada gejala yang dialami, sebab vaksin terbukti dapat mengurangi gejala berat dari virus Covid-19 ini.

Kelima, penggunaan masker tidak ampuh untuk mencegah penularan varian Omicron. Kemenkes juga menyanggah pernyataan ini, dengan menjelaskan kalau pencegahan terbaik adalah disiplin terhadap protokol kesehatan, termasuk di dalamnya penggunaan masker.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap disiplin mencuci tangan, mengurangi mobilitas, serta menggencarkan vaksinasi.

Kasus Harian Tertinggi di Asia Tenggara

Secara global, organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) sudah menetapkan varian Omicron sebagai variant of concern sejak tanggal 26 November tahun lalu. Kasus Omicron di Indonesia sendiri ditemukan pada 16 Desember 2021 di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. 

Hingga 6 Februari 2022, total kasus Omicron yang tercatat di Indonesia berjumlah 3.722 kasus. Angka kasus Omicron ini terus menanjak dari awal Januari 2022, dan menempatkan Indonesia di urutan pertama sebagai negara dengan jumlah kasus harian terbanyak di Asia Tenggara.

Berikut grafik pertumbuhan kasus Omicron di Indonesia yang dirangkum oleh Databoks:

Reporter: Amelia Yesidora

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...