Xi jinping Telepon Jokowi, Bahas G20 hingga Proyek Kereta Cepat

Ameidyo Daud Nasution
17 Maret 2022, 11:15
Carlos Garcia Rawlins Presiden China Xi Jinping memberikan suaranya mengenai peraturan keamanan nasional untuk Wilayah Administrasi Khusus Hong Kong pada penutupan sesi Kongres Rakyat Nasional (NPC) di Balai Agung Rakyat di Beijing, China, Kamis (28
ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/aww/cf
Carlos Garcia Rawlins Presiden China Xi Jinping memberikan suaranya mengenai peraturan keamanan nasional untuk Wilayah Administrasi Khusus Hong Kong pada penutupan sesi Kongres Rakyat Nasional (NPC) di Balai Agung Rakyat di Beijing, China, Kamis (28/5/2020).

Presiden Joko Widodo melakukan percakapan telepon dengan Presiden Cina Xi Jinping pada Rabu (16/3) untuk membahas sejumlah hal. Beberapa di antaranya adalah proyek kereta api cepat, konflik Rusia dan Ukraina, serta G20.

Dalam pembicaraan tersebut, Xi mendukung Indonesia memainkan peran penting sebagai Presidensi G20. “Hingga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bali terlaksana dengan baik,” kata Xi seperti dikutip dari Antara, Kamis (17/3).

Dalam penanganan Covid-19, RI dan Cina akan meningkatkan kerja sama terutama di bidang vaksin.  Selain itu, kedua negara juga akan menjamin kereta api cepat Jakarta-Bandung beroperasi sesuai jadwal.

“Cina bersikap positif terhadap proyek (di Indonesia) selama kondusif untuk pembangunan dan bagi kelangsungan kerja sama dua negara,” kata Xi.

Baik Jokowi maupun Xi juga bersepakat agar Rusia dan Ukraina berdialog untuk mencegah krisis kemanusiaan lebih luas. Selain itu Cina juga mengajak RI untuk bersama-sama menjaga stabilitas rantai pasokan global.

RI dan Cina juga akan memajukan pola hubungan bilateral baru “four-wheel drive” di bidang politik, ekonomi, maritim, dan budaya. “Cina bersedia mempererat komunikasi dengan Indonesia untuk memberikan energi yang positif,” kata Xi.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membuka potensi Cina masuk dalam proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Hal ini lantaran investor Negeri Panda merupakan mitra Abu Dhabi.

Abu Dhabi telah berencana menanamkan investasi mencapai US$ 20 miliar untuk proyek ibu kota baru. "Mereka itu konsorsium dan berasal dari macam-macam negara, bukan sendirian. Jadi, ya bisa saja ada konsorsium dari Cina," kata Luhut saat ditemui di Grand Hyatt, Selasa (15/3).

Reporter: Antara

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...