Alasan Menko Luhut Tak Mau Jadi Presiden atau Wakil Presiden

Andi M. Arief
7 Oktober 2022, 20:32
luhut, Luhut Binsar Pandjaitan, pilpres 2024
Instagram.com/luhut.pandjaitan
Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

Pemilihan presiden (pilpres) akan digelar pada 2024. Namun Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan tak berminat menjadi presiden maupun wakil presiden.

"Katanya saya populer. Tetapi untung saya tidak mau menjadi presiden atau wakil presiden. Oleh karena, saya bisa berbicara bebas," kata Luhut dalam peluncuran buku Luhut, Jumat  (7/10).

Selain kebebasan berbicara, Luhut pernah menyampaikan bahwa mengabdi kepada negara, tak perlu harus menjadi presiden. Ia menyatakan tak semua orang layak untuk menjadi presiden, sehingga perlu mengukur dirinya masing-masing.

“Apa hanya dengan menjadi presiden, kau bisa mengabdi? Kan tidak juga. Harus tahu diri juga," kata Luhut ketika berbincang dengan Rocky Gerung dalam acara Menatap Indonesia Pasca 2024, di kanal YouTube RGTV Channel ID yang diunggah akhir bulan lalu (21/9).

Luhut menilai untuk menjadi seorang presiden, membutuhkan kriteria yang bisa diterima masyarakat Indonesia secara luas. Dia menyebut, saat ini mayoritas pemilih merupakan masyarakat Jawa dan beragama Islam.

“Kalau kau bukan orang Jawa, pemilihan langsung hari ini—saya tidak tahu 25 tahun lagi—sudah lupakan saja,” kata Luhut.

Dalam percakapan tersebut, Luhut mencontohkan dirinya sendiri. Ia mengaku tidak memaksakan diri mencalonkan sebagai presiden.

“Saya double minoritas. Saya Batak. Beragama Kristen. Jadi saya bilang, ya sudah cukup itu. Kita harus tahu. Kenapa saya menyakiti hati sendiri?” katanya.

Ia pun mengutip perkataan jenderal dan filsuf Cina Sun Tzu. Luhut mengatakan, penting untuk mengenali kapasitas diri.

“Memang kadang-kadang semua berpikir ingin menjadi presiden. Saya berkali-kali bilang, apakah mengabdi harus dengan menjadi presiden?” ujar dia.

Luhut Meluncurkan Buku

Luhut bercerita, dirinya diwawancarai lima kali dengan durasi masing-masing 60 menit terkait pembuatan buku tersebut. Tema utama wawancara yakni perjalanan hidup sejak dini.

Pada kesempatan yang sama, pengusaha nasional Garibaldi Thohir menceritakan pengalamannya saat melakukan perjalanan bisnis ke Cina. Saat itu, pria yang akrab disapa Boy Thohir ini mengusahakan kerja sama dengan pengusaha Negeri Tirai Bambu.

Sebelum negosiasi, Boy menerima nasihat dari Luhut untuk tidak gentar. Luhut mengarahkan Boy mengusahakan agar dirinya menguasai sebagian besar materi investasi yang akan dilakukan bersama pengusaha Cina itu.

"Pak Luhut selalu building ‘kamu harus firm bahwa kita ini Banana Republic. Kita ini negara besar’,” kata Boy menirukan nasihat Luhut dalam peluncuran buku, Jumat  (7/10).

Pak Luhut bilang ‘jangan mau kalah karena usaha kamu di Indonesia. Kamu harus mayoritas dalam investasi itu’," tambah Boy.

Oleh karena itu, kesan yang diingat Boy mengenai Luhut adalah kepercayaan diri dalam mengutamakan kepentingan nasional.

Di samping itu, Boy menilai Luhut selalu memberikan kepercayaan kepada generasi mudah. Hal ini dibuktikan dalam tim penanganan pandemi Covid-19 di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Menurutnya, Luhut memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja yang sesuai dan menyebarkannya ke segala bidang. "Saya sependapat tentang kehebatan Pak Luhut ada di tim yang begitu komplit," kata Boy.

"Saya terkadang, tentunya bukan iri, tapi kagum dengan karier Pak Luhut. Alhamdulillah, saya bisa mengenal Pak Luhut lebih dekat," lanjut Boy.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...