Jokowi Respons Isu Jadi Dewan Pertimbangan Pemerintahan Prabowo

Muhamad Fajar Riyandanu
14 Mei 2024, 12:28
jokowi, prabowo, dewan pertimbangan
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) dan Pj Gubernur Sulawesi Tenggara Andap Budhi Revianto (kanan) berjalan saat meninjau BLUD Rumah Sakit Konawe, Sulawesi Tenggara, Selasa (14/5/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tanggapan terkait wacana yang menyebut dirinya menjadi Dewan Pertimbangan Presiden pada pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka selepas masa habis jabatan presiden pada 20 Oktober mendatang.

Jokowi mengatakan saat ini dirinya masih fokus mengemban amanat sebagai presiden yang kini tersisa waktu 6 bulan. "Sekarang masih bekerja sampai sekarang, ini (malah) ditanyakan begitu," kata Jokowi kepada wartawan seusai meninjau Badan Layanan Umum Daerah Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pada Selasa (14/5).

Melansir Antara, usulan "Presidential Club" menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dilontarkan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/5).

Sebagai informasi, Indonesia pernah memiliki lembaga bernama DPA pada masa Orde Baru. Meski demikian, lembaga tersebut dihapus memasuki masa Reformasi.

"Ya kalau mau diformalkan lagi biar lebih bagaimana gitu, ya, boleh saja, tergantung Prabowo, tetapi itu harus melalui tentu saja amendemen kelima (UUD 1945)," kata Bamsoet.

Ia mengatakan bahwa bila Prabowo menghendaki DPA dihidupkan kembali, maka akan diisi oleh mantan Presiden dan Wakil Presiden RI. "Jadi, diwadahkan dalam bentuk formal supaya juga ada pride (kebanggaan) bagi mantan-mantan Presiden-Wakil Presiden RI sebagai Dewan Pertimbangan Agung," ujar Bamsoet.

Sebelumnya, Jokowi menyambut baik usulan Prabowo Subianto untuk membentuk 'presidential club'. Forum itu dimaksudkan sebagai wadah para mantan presiden yang masih hidup agar saling berdiskusi tentang masalah-masalah strategis kebangsaan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...