Top News: Kebohongan Efishery Terungkap dan 3 Alasan IHSG Longsor

Agus Dwi Darmawan
1 Maret 2025, 11:04
Top News: Unicorn Efishery Tradisional dan IHSG Longsor
Katadata/Kamila Meilina
Top News: Unicorn Efishery Tradisional dan IHSG Longsor
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Berikut lima rangkuman berita terhangat kemarin yang perlu Anda ketahui. Mulai dari sektor investasi hingga perkembangan perusahaan teknologi, semua terangkum ringkas. Mari simak informasi penting yang memengaruhi pasar dan ekonomi.

Salah satu sorotan utama adalah kinerja dividen ITMG yang mencatatkan laba Rp 5.349 per saham, memunculkan pertanyaan tentang prospeknya ke depan.

Di sisi lain, IHSG mengalami penurunan hingga Rp 6.300, dengan Bos BEI menyoroti dua pemicu utama dari dalam negeri. Sentimen pasar juga diwarnai isu Danantara yang disebut-sebut sebagai penyebab IHSG rontok ke Rp 6.200, namun Bos Bursa memberikan penjelasan lebih detail.

Berita lainnya menyoroti unicorn eFishery yang disebut beroperasi secara tradisional, menimbulkan perdebatan tentang kecanggihan teknologi yang diklaim. Terakhir, kabar kurang menggembirakan datang dari sektor tekstil, di mana Pemerintah gagal menyelamatkan Sritex dan menyebabkan 10.665 karyawan terkena PHK.

Jejak Dividen ITMG Saat Catatkan Laba Rp 5.349 per Saham, Bagaimana Prospeknya?


PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dikenal sebagai emiten batu bara yang rajin membagikan dividen dan masuk dalam daftar Indeks High Dividend 20 (IDXHIDIV20). Kinerja keuangan ITMG tahun 2024 menunjukkan laba bersih yang signifikan sebesar US$ 374,11 juta, didukung oleh peningkatan produksi dari dua tambang baru, yaitu PT Graha Panca Karsa (GPK) dan PT Tepian Indah Sukses (TIS). Perusahaan mempertahankan neraca yang sehat dengan peningkatan aset dan kas yang kuat.

Meskipun laba per saham (EPS) ITMG mengalami penurunan sepanjang tahun 2024, perusahaan tetap konsisten membagikan dividen, termasuk dividen interim dari laba bersih semester pertama 2024.

Sebelumnya, ITMG juga mengumumkan dividen final yang signifikan untuk tahun 2023, menunjukkan komitmen terhadap imbal hasil bagi pemegang saham. Namun, dengan harga batu bara yang terus mengalami penurunan, bagaimana prospek ITMG selanjutnya? Klik link berita berikut untuk membaca kelanjutannya.

3 Sebab IHSG Longsor ke Rp 6.300, Bos BEI Ungkap 2 Pemicu Ini dari Dalam Negeri

Pasar modal Indonesia mengalami pelemahan signifikan dalam sepekan terakhir, dengan IHSG anjlok 4,67%. Pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi faktor global, seperti kebijakan ekonomi Donald Trump dan sentimen suku bunga The Fed. Faktor domestik, termasuk penurunan peringkat pasar modal oleh Morgan Stanley dan berkurangnya partisipasi investor ritel, juga memperburuk situasi.

Selain itu, laporan keuangan emiten yang terpengaruh oleh perlambatan ekonomi domestik turut menekan IHSG. Penurunan konsensus terhadap kinerja korporasi menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Namun, ada satu kebijakan domestik lagi yang tak kalah pentingnya dan akan memengaruhi IHSG kedepannya, kira-kira apa ya? Baca berita selanjutnya

Benarkah Danantara Sebabkan IHSG Rontok ke Rp 6.200? Begini Penjelasan Bos Bursa


IHSG mengalami penurunan signifikan dalam dua pekan terakhir, merosot 4,67% secara week on week dan 11,01% year to date, dengan *net sell* asing mencapai Rp 16,78 triliun sejak awal tahun. Penurunan ini dipicu oleh penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh MSCI dan pesimisme terhadap Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), meskipun baru saja diluncurkan. Pada penutupan perdagangan Jumat (28/2), IHSG bahkan menyentuh level 6.256.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, membantah keterkaitan penurunan IHSG dengan Danantara, dan menekankan potensi positif Danantara bagi BUMN dan pasar modal. Iman menjelaskan bahwa faktor global seperti kebijakan AS dan kondisi domestik serta laporan keuangan emiten juga memengaruhi IHSG. BUMN yang go public juga cenderung berkembang lebih pesat berkat kenaikan transparansi dan akuntabilitas.Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG, apakah Danantara benar-benar dapat menjadi solusi atau justru menambah tekanan pada pasar modal Indonesia? Mari kita telaah lebih dalam, klik berita berikut.

Unicorn eFishery Disebut Beroperasi Tradisional, Teknologi Tak Secanggih Klaim

Laporan investigasi terbaru mengungkap dugaan bahwa teknologi eFishery tidak secanggih yang diklaim, dengan operasional yang lebih mengandalkan metode tradisional sebagai pemasok pakan dan pedagang hasil perikanan. Fitur unggulan seperti eFeeder hanya digunakan oleh sebagian kecil petani, jauh dari angka yang dilaporkan kepada investor, dan integrasi data yang minim menyebabkan ketidakakuratan dalam prediksi pakan. Sebagian besar investasi yang diterima perusahaan disebut tidak dialokasikan untuk pengembangan teknologi yang signifikan.

Model bisnis eFishery yang menghubungkan petani dengan pemasok dan pembeli, serta memfasilitasi pembiayaan, ternyata masih sangat bergantung pada tenaga kerja manual, terlihat dari jumlah karyawan yang besar sebelum PHK massal. Margin keuntungan bisnis ikan dan udang juga dilaporkan tipis, bahkan merugi, sehingga muncul keraguan terhadap akurasi pembukuan internal perusahaan. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar eFishery? Simak artikel selengkapnya untuk mengetahui fakta-fakta mengejutkan lainnya!. Klik berita ini untuk membaca kelanjutannya.

Pemerintah Gagal Selamatkan Sritex, 10.665 Karyawan Kena PHK

Pemerintah Presiden Prabowo Subianto gagal menyelamatkan PT Sritex dari kebangkrutan, mengakibatkan PHK massal terhadap 10.665 karyawan. Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Gerungan menyatakan bahwa upaya pemerintah menemui jalan buntu setelah Mahkamah Agung menolak kasasi Sritex. Pemerintah berjanji akan menjamin hak-hak buruh yang terkena PHK sesuai dengan hukum yang berlaku.

Keputusan PHK diambil oleh tim kurator sebagai bagian dari proses kepailitan, dengan biaya pesangon menjadi tanggung jawab mereka. Total tagihan utang Sritex mencapai Rp 32,63 triliun, di mana Citicorp Investment Bank (Singapore) Limited menjadi kreditor dengan klaim terbesar mencapai Rp 4,43 triliun. Tapi, kenapa manajemen Sritex dianggap tidak kooperatif dan terbuka oleh Tim Kurator? Simak berita selengkapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Aryo Widhy Wicaksono

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...