RI dan Swedia Sepakati Kerja Sama Kesehatan, RS Dharmais Dapat Hibah Rp 15,3 M
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Kesehatan Swedia Acko Ankanberg Johansson menyepakati empat nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) terkait kesehatan.
Nota kesepahaman tersebut mencakup kerja sama kesehatan umum, resistensi antimikroba, pembangunan pusat radioterapi dan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.
Budi Gunadi berharap penandatangan MoU antara Indonesia dan Swedia kali ini dapat menjadi katalis peningkatan layanan kesehatan di Indonesia. Budi menilai investasi pada sektor layanan kesehatan dengan Swedia akan diarahkan untuk mendukung transfer teknologi serta memperkuat keterampilan tenaga kesehatan perawat dan bidan.
Selain itu, MoU tersebut juga memuat komitmen kerja sama dalam aspek riset keahlian dalam mengelola penyakit tropis. Budi mengatakan pemerintah kini tengah berupaya untuk mengembangkan riset lanjutan di bidang pengobatan seperti kanker paru-paru, pengobatan diabetes dan pemeriksaan medis untuk mendeteksi dini penyakit.
“Jadi kami mencoba apakah solusi baru dan produk canggih yang dimiliki Swedia cocok dan dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia, terutama untuk penyakit-penyakit yang lebih banyak memerlukan keahlian,” kata Budi Gunadi dalam forum bertajuk ‘Advancing Cooperation for a healthier Future’ di Ayana Midplaza Jakarta pada Selasa (27/5).
Kendati demikian, Direktur Utama Bank Mandiri 2013-2016 itu enggan merinci besaran dana yang disepakati dalam MoU kali ini. "Saya tidak ingat angkanya secara pasti,” ujarnya.
Menteri Kesehatan Swedia, Acko Ankarberg Johansson, mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk membantu Indonesia dalam meningkatkan sistem kesehatan melalui peningkatan inovasi digital dan teknologi medis.
“Kami bangga mendukung visi Indonesia dalam membangun sistem kesehatan yang tahan banting, serta membentuk kemitraan yang berdampak, inklusif, dan berorientasi masa depan,” ujarnya.
Adapun MoU yang disepakati oleh Indonesia dan Swedia antara lain kemitraan antara Kemenkes AstraZeneca untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.
Selain itu ada pula komitmen kolaborasi Kemenkes dan Essity yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan pertukaran keahlian dalam program pengendalian resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR).
Budi dan Johansson juga menyepakati adanya dialog strategis lanjutan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan HemoCue untuk mengimplementasikan program skrining anemia di tingkat komunitas yang berfokus pada deteksi dini dan intervensi tepat waktu.
Forum tersebut juga menyepakati hibah studi kelayakan antara Swedfund, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais untuk pengembangan pusat radioterapi.
Management Consultant Business Sweden, Sri Kumala Chandra, mengatakan RS Dharmais bakal mendapat kucuran dana 9 juta SEK atau sekitar Rp 15,3 miliar dengan asumsi kurs Rp 1.708 per Krona Swedia. Dana tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan radioterapi.
“Radioterapi di Dharmais antrinya bisa berbulan-bulan. Maka dengan bantuan ini diharapkan dapat memperpendek waktu antrian,” kata Kumala.
Selain RS Dharmais, Business Sweden juga berniat untuk mengupayakan dukungan finansial untuk pengembangan RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Proposal pendanaan ini berencana untuk merenovasi gedung RS Fatwati menjadi lebih terpusat dari kondisi saat ini yang tersebar di berbagai lokasi berbeda.
“Rencananya mau dijadikan satu, sehingga memudahkan pasien dan menghindari infeksi. Juga itu akan lebih efisien untuk tenaga medisnya,” ujar Kumala.
Meski demikian, rencana mencairkan dana dukungan kepada RS Fatmawati masih berupa proposal tahap awal. Ia mengatakan, proposal tersebut masih perlu mendapatkan atensi dari Kementerian Keuangan dan Bappenas.
“Untuk Fatmawati belum ada proyeksi besaran dananya karena masih melihat tergantung seberapa besar proyek itu,” kata Kumala.
